Home » Fokus

Kejar Tayang Capres

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

FOTO: Biro Pers Presiden. ILUSTRASI: Akbar Pathur

MELALUI Rapat Pimpinan Nasional I yang tengah digelar di Bali, Partai Hanura kembali memberi dukungan kepada Joko Widodo untuk mencalonkan diri di Pilpres 2019. Walaupun dukungan sudah disampaikan pada Munaslub akhir tahun lalu, namun Hanura kembali memastikan dukungan itu. Di forum Rapimnas, berkali-kali nama Jokowi diteriakkan hadirin.

Dukungan resmi ini dikabarkan merupakan inisiatif Hanura sendiri, bukan karena ada permintaan Jokowi. Maklum sebelumnya, beberapa partai juga telah meresmikan dukungan pencapresan kepada Jokowi. Walaupun Pilpres masih dua tahun lagi, Hanura sebagai partai pengusung sejak Pilpres 2014 silam, tentu tak mau ketinggalan gerbong. 

Pengamat politik dari UIN Jakarta, Adi Prayitno melihat, pilihan Hanura ini diambil karena pertimbangan realistis melihat kondisi politik. Setelah disahkannya Undang-Undang Pemilu yang memuat ambang batas pencalonan Presiden sebesar 20%, peluang Hanura menjual tokoh internalnya ke bursa pencalonan Pilpres menjadi sulit. "Sikap ini semata pertimbangan realistis, selain juga untuk meringankan kerja partai," kata Adi di Jakarta, Kamis (3/8/2017).

Dengan memastikan nama Capres lebih awal, menurutnya, maka kerja politik Hanura menjadi lebih ringan. Mesin partai bisa leluasa dan fokus pada pemenangan di pemilihan legislatif, yang kelak digelar serentak dengan pemilihan presiden. Apalagi, perolehan suara Hanura di pemilu sebelumnya tidak memenuhi target. 

"Dengan mendompleng Jokowi, Hanura berharap dapat ‘tuah’ Jokowi, yang sejauh ini, sepertinya, masih kuat," ujarnya. Tuah atau citra positif ini yang akan menjadi imbalan elektoral yang diharapkan Hanura. 

Namun Adi juga menyayangkan langkah tersebut yang menurutnya diambil terlalu dini. Karena dengan begitu telah tertutup kemungkinan bagi kader-kader terbaik partai untuk bertarung dan dimajukan dalam Pilpres. “Sayangnya, mereka lebih memilih sebagai follower Jokowi," terang Adi.

Partai politik yang semestinya membawa harapan baru kepada publik, menurut Adi, tidak bisa muncul. "Ini akibat oligarki partai politik yang cukup kuat. Bibit-bibit muda tidak pernah diorbitkan. Hanya figur lama yang dominan. Bisa diperiksa, hampir semua partai politik disesaki wajah-wajah lawas," tutup Adi.

Menjawab hal itu, I Gede Pasek Suardika, Wakil Ketua Umum Partai Hanura memiliki penjelasan sendiri. “Belum ada figur yang sebanding (dengan Jokowi) yang layak ditawarkan kepada khalayak,” ujarnya. 

“Faktanya Jokowi memang serius mengurusi rakyat,” ujar Pasek lagi. Dia bercerita tentang komitmen Jokowi menggunakan APBN untuk pembangunan infrastruktur dan mengembalikan wibawa negara dari ideologi-ideologi anti-Pancasila. Hal inilah, menurutnya, yang membuat Hanura tidak mau melirik tokoh lain.

Soal adanya suara sumbang bahwa Hanura hanya memanfaatkan ‘tuah’ Jokowi untuk mendulang suara, menurutnya itu tidak menjadi soal. Malahan, Hanura justru sedang menunjukkan konsistensinya. “Wong kita sejak awal kita pengusung Jokowi sejak sebelum menjadi presiden ‘kok,” pungkas mantan pengurus Partai Demokrat ini. 

 

Simak fokus lainnya tentang RAPIMNAS I PARTAI HANURA:

LAPORAN 1: Gairah Baru Partai Hanura
LAPORAN 2: Kejar Tayang Capres
LAPORAN 3: Geng Anas di Hanura  
LAPORAN 4: Parlemen Pindah Kamar
LAPORAN 5: Tambah 40 Kursi

Penulis Armidis Fahmi
Editor Danial Iskandar

Tags:

fokuspartai hanurarapimnasgede pasekadi prayitno