logo rilis
Kejar Swasembada, Kementan Siap Lawan Kartel Bawang Putih
Kontributor
Fatkhurohman Akbar
19 April 2018, 08:19 WIB
Kejar Swasembada, Kementan Siap Lawan Kartel Bawang Putih
FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, mengatakan, 13 importir bawang putih yang sudah mendapat Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan Surat Pengajuan Impor (SPI) akan dievaluasi. Menurutnya, apabila ada di antara mereka terbukti melakukan kartel, Kementerian Pertanian tidak akan segan mem-blacklist perusahaan- perusahaan tersebut.

“Ini sudah tidak masuk akal, harga bawang putih saat ini di China hanya sekitar Rp8.000 per kilogram, ditambah biaya sortir dan ongkos kirim ke Indonesia sekitar Rp2.000 per kilogram, total Rp10.000 per kilogram sudah sampai Indonesia. Ini apa-apaan?” kata pria yang karib disapa Anton itu, di kantor Kementan, Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Anton menjelaskan, bisa dibayangkan, apabila izin impor 450.000 ton dan harga bawang putih Rp40.000 per kilogram, untungnya bisa Rp13,5 triliun.

Sangat fantastis, tidak wajar,” ujarnya.

Maka itu, tegas Anton, Kementerian Pertanian tidak segan melakukan blacklist terhadap perusahaan-perusahaan yang menyulitkan kehidupan rakyat Indonesia.

Terkait dengan perbaikan di internal organisasi Kementan, Anton mengatakan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam hal membersihkan aparaturnya dari tindak korupsi dan kolusi sangatlah tegas. Ada lebih dari 1.200 pejabat di lingkup Kementan yang dianggap tidak cakap telah diberhentikan oleh Mentan, termasuk di dalamnya pejabat-pejabat terlibat kasus korupsi dan kolusi.

“Kami akan melakukan verifikasi ketat terhadap wajib tanam dari 13 importir yang sudah melakukan importasi bawang putih. Apabila tidak dilakukan sesuai komitmen, tidak segan-segan kami akan hentikan izin RIPH-nya,” tandas Anton.

Ia menuturkan, dalam rangka menghentikan kegiatan kartel di komoditas bawang putih, Kementan akan menggaet pengusaha lokal/BUMD untuk ikut terlibat dalam importasi bawang putih.

“Saat ini, komunikasi dengan pengusaha lokal sudah dilakukan secara intensif dan sudah banyak yang berminat untuk importase ini,” ungkap Anton.

Ia menambahkan, Kementan tengah mati-matian mengejar swasembada. Saat ini, luas tambah tanam bawang putih tahun 2017-2018 sudah mencapai 14 ribu hektare, atau meningkat hampir 1.000 persen dibanding kondisi eksisting.

“Kami tidak main-main terhadap upaya mencapai swasembada bawang putih tahun 2021. Kementan menganggap ekonomi pasar bawang putih yang didominasi beberapa gelintir orang selama puluhan tahun tidak berkeadilan dan harus dihentikan. Bisa dibayangkan setiap tahun keuntungan yang diperoleh importir bawang putih bisa mencapai Rp10 triliun lebih. Kementan akan berusaha menghentikan kartel bawang putih melalui kebijakan-kebijakan yang akan segera diambil,” tandas Anton.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)