logo rilis
Keinginan Jokowi Bertemu Prabowo Dinilai untuk Hindari Skenario Ini
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
23 April 2019, 17:30 WIB
Keinginan Jokowi Bertemu Prabowo Dinilai untuk Hindari Skenario Ini
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Rencana pertemuan capres petahan Joko Widodo melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, dengan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, terus menjadi sorotan publik.

Peneliti Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia (Formasi), Muhammad Taufik Rahman, menduga, keinginan Jokowi untuk bertemu dengan Prabowo adalah untuk menghindari skenario terburuk pascapenghitungan suara Pemilu 2019 secara resmi oleh KPU.

"Skenario terburuk yang akan dihadapi besok adalah hasil real count KPU tidak sesuai perhitungan timses Prabowo. Nah, karena asumsinya sudah dibentuk bahwa itu mungkin karena kecurangan petahana, maka diperlukan upaya pertahanan diri untuk menghindari hasil   yang tidak diharapkan," katanya kepada rilis.id, Selasa (23/4/2019). 

"Jalan melalui MK sudah pernah dilakukan Prabowo di tahun 2014 dan gagal. Kelihatannya kali ini mereka akan mencari cara alternatif yang luar biasa untuk menghindari terulangnya kekalahan," sambungnya. 

Taufik mengatakan, rencana pertemuan Luhut dan Prabowo memiliki signifikansi yang tinggi. Menurutnya, selalu ada persoalan yang penting bila Luhut ingin bertemu dengan Prabowo. 

"Jika melihat pola pertemuan mereka sejak Jokowi menjabat, selalu ada situasi genting di balik layar yang harus diselesaikan," ujar Taufik. 

Sepanjang perjalanan pertemuan Luhut dan Prabowo di masa Presiden Jokowi, ujar Taufik, segala permasalahan pada akhirnya berujung dengan kompromi. Bisa dibilang, lanjut Taufik, pertemuan Luhut dan Prabowo selalu terkait dengan stabilitas.

"Pertemuan itu sebenarnya perlu dipertanyakan relevansinya karena kedua kubu sudah satu visi, menghindari dampak quick count dan sama-sama menunggu KPU menyelesaikan perhitungan suaranya. Tensi politik juga sudah mereda akhir-akhir ini," tuturnya. 

Meski pertemuan keduanya selalu berujung pada hal baik, ungkap Taufik, namun realitas politik hari ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Pasalnya, pertemuan sebelumnya yang salah satunya terjadi menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017 itu adalah membahas potensi konflik yang tidak melibatkan Prabowo secara langsung. 

"Sebelum Pilpres 2019, posisi Prabowo hanya king maker, tidak turun langsung ke lapangan. Ini berbeda dengan  situasi sekarang. Prabowo mungkin sudah mempertaruhkan segalanya untuk meraih hasil maksimal bagi dirinya sendiri. Tapi hasilnya di luar dugaan dan fakta-fakta yang dimiliki timsesnya. Dari situlah terbentuk asumsi bahwa ada sesuatu di balik saling klaim kemenangan ini," paparnya.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID