logo rilis
Kebutuhan Pakan Jagung Tinggi, Tahun Ini Bakal Impor
Kontributor
Ainul Ghurri
29 Maret 2018, 17:27 WIB
Kebutuhan Pakan Jagung Tinggi, Tahun Ini Bakal Impor
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Koordinator Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP)  Said Abdullah menilai, risiko impor jagung ke depan akan tetap ada. Pasalnya, kebutuhan industri pakan jagung lebih tinggi dibanding industri olahan pangan.

"Kebutuhan pakan memang tinggi, kalau yang industri olahan pangan, misalnya untuk tepung dan untuk bahan baku yang dari jagung, itu sebetulnya tidak terlalu besar proporsinya, sekarang kan populasi peternakan kita juga relatif naik terus, sehingga kebutuhan pakannya juga memang tambah juga" katanya saat dihubungi rilis.id di Jakarta, Kamis (29/3/2018).

Selain itu, program pemerintah atas swasembada pangan yakni padi, jagung dan kedelai tentunya bakal ada yang dikorbankan. Sebab, kata Said, tidak mungkin dalam satu lahan dilakukan penanaman dalam komoditas yang sama.

"Ini akan selalu ada yang jadi korban, kalau tidak padi ya jagung, atau kedelainya, dalam arti, produksinya tidak seperti yang direncanakan," imbuhnya.

"Karena tiga komoditi ini secara teknis, terutama di Jawa, itu basis produksinya di lahan yang sama dalam arti besok, habis musim tanam padi biasanya jagung, kalau tidak kedelai, pilihannya itu saja. Jadi, tidak mungkin tiga-tiganya akan naik produksinya secara sekaligus, karena lahannya terbatas tadi," tambahnya.

Menurutnya, awal tahun pemerintah telah menggenjot produksi pangan jenis padi, hal itu guna menutupi kekurangan pasokan di sejumlah daerah. Sehingga, produksi jagung berkurang karena lahan untuk tanaman jagung terbatas.

"Jangan lupa, periode ini pemerintah menargetkan swasembada tanam padi setahun tiga kali. Artinya apa, kalau tiga tahun sekali, maka kesempatan untuk petani tanam jagung itu jadi berkurang, karena lahannya terbatas, kecuali lahannya ada baru lagi untuk dipakai," pungkasnya.

Editor: Intan Nirmala Sari


500
komentar (0)