logo rilis

Kebocoran Data Facebook Harusnya Jadi Peluang Indonesia
Kontributor

03 April 2018, 18:44 WIB
Kebocoran Data Facebook Harusnya Jadi Peluang Indonesia
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menilai, krisis yang mendera Facebook karena melibatkan Cambridge Analytica terkait upaya pemenangan Presiden Trump di AS, harusnya bisa menjadi momentum mengevaluasi Facebook sebagai media sosial terbesar di dunia.

Kondisi tersebut, terkait krisis kebocoran data 50 juta pengguna Facebook. APJII menilai, ke depan perlu didorong bangkitnya media sosial yang dikreasi anak bangsa.

Ketua Bidang Hubungan antar Lembaga APJII Tedi Supardi Muslih mengatakan, berdasarkan hasil survei lembaganya, jumlah pengguna internet di Indonesia  2017 telah mencapai 143,26 juta jiwa dari total 262 juta jiwa penduduk Indoesia. Kebanyakan dari jumlah itu, menggunakan internet untuk berinteraksi di media sosial.

"Kebocoran data itu adalah momentum untuk mengevaluasi Facebook. Apalagi, Facebook juga tercatat sebagai pemilik Whatsapp dan Instagram. Sebaiknya, ini juga jadi momentum kebangkitan media sosial Indonesia. Jangan sampai masyarakat Indonesia hanya jadi pengguna saja," ujar Tedi Supardi Muslih dalam pernyataan resmi, Selasa (3/4/2018).

Tedi memaparkan, bedasarkan hasil riset lembaganya, pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia di sepanjang 2017 menunjukkan, separuh pengguna teknologi internet adalah milenial atau sekitar 49,52 persen. Menurut survei tersebut, pengguna teknologi internet bukan hanya dinikmati masyarakat perkotaan saja.

Bila dirunut berdasarkan wilayah, terungkap bahwa penetrasi pengguna internet terbesar berada di Pulau Kalimantan, dengan penetrasi hingga 72 persen, jauh di atas Jawa yang mewakili 58 persen populasi penduduk. Ini berarti, ada akses yang relatif sama bagi milenial di seluruh Indonesia.

"Dengan jumlah pengguna internet sebanyak itu, Indonesia tercatat sebagai negara pengguna Facebook terbanyak keempat di dunia. Jadi, dengan potensi pelanggan sebanyak itu, harusnya bisa muncul media sosial khas Indonesia, kita tidak hanya menjadi konsumen," ujar Tedi yang pemilik dan pendiri PC24 Group, yakni bisnis grup yang bergerak dibidang komputer IT solution

Menurut Tedi, Indonesia sebaiknya bisa mencontoh Cina yang  melaju di dunia internet dengan media sosial seperti Baidu, Weibo, dan Wechat

Senada dengan Tedi, Ahli Digital Forensik Rubi Alamsyah menanggapi kasus kebocoran data Facebook sebagai pembelajaran mengenai pentingnya kehati-hatian dan privasi di media sosial. "Media sosial ini kita gunakan secara gratis, banyak manfaat yang kita dapat. Tapi sejak mendaftar dan instal, sering kali orang lupa mengenai kehati-hatian membagikan data-data yang bersifat pribadi," ungkap Rubi.

Menurutnya, pengguna media sosial di Indonesia masih perlu diedukasi, terutama mengenai pentingnya perlindungan data pribadi agar tidak disalahgunakan oleh pihak ketiga.

"Di Amerika, kesadaran mengenai privasi sudah sangat tinggi. Berbeda dengan di Indonesia, kita masih sangat rendah. Kita menggunakan media sosial, seringkali kebablasan membagikan data yang bersifat pribadi secara sukarela, padahal itu penting," tegasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)