logo rilis

Kebangkrutan Sosial
kontributor kontributor
Arif Budiman
24 Juli 2017, 12:40 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Kebangkrutan Sosial

Seorang ibu muda terlihat setengah berlari memasuki ruang kelas. Bersamanya digandeng anak laki-laki berseragam sekolah dasar berwarna putih-merah. Kala itu matahari bahkan belum muncul, cahayanya pun masih terlelap di balik selimut. Ibu itu tak peduli. Baginya, mengakuisisi sebuah kursi adalah harga mati. Demi anaknya, apapun akan dilakukannya. Meski harus menumbuk dinginnya pagi, yang lebih tepat disebut dini hari.

Ia bertindak sendiri. Tak percaya orang lain akan melakukan hal yang sama sebagaimana ia berbuat untuk anaknya. Bahkan terhadap pengelola lembaga pendidikan pun ia ragu. Tak yakin anaknya akan mendapat perlakuan dan pelayanan yang sama. Ia turun langsung untuk memastikannya. 

Baca Juga

Entah mengapa ia sampai begitu. Apakah egonya yang mendorongnya? Ataukah karena terlalu banyak ketidakadilan yang disaksikannya? Sebanyak itukah kebohongan yang dialaminya hingga rasa percaya hilang dari hatinya? Mungkinkah ia lepas kendali atas logika hingga dengan mudah termakan provokasi murahan?. Satu hal yang pasti, ia tak lagi memiliki kepercayaan, baik terhadap sistem maupun lingkungan. Modal sosialnya terkikis. 

Celakanya, ia adalah representasi dari realitas sosial yang ada, yaitu sebuah masyarakat yang tak lagi peduli selain terhadap dirinya sendiri. Dalam entitas itu, kemampuan masyarakat untuk bekerjasama dan berasosiasi melemah, nilai-nilai dan norma-norma informal yang dimiliki bersama sebagai perekat dan pemantik kerjasama pun memudar. Si ibu hanya memercayai dirinya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Hanya ia yang mampu menjamin ketersediaan ‘fasilitas’ untuk anaknya di sekolah. Ironisnya, dalam selubung sosial yang demikian, ia tidak sendirian. Ia juga bukan satu-satunya di Indonesia.  

Modal yang tergerus adalah tanda kebangkrutan. Jika dalam hal ekonomi kebangkrutan dipahami sebagai ketidakmampuan memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dengan segala macam bentuknya, maka dalam hal sosial gejala kebangkrutan ditandai oleh ketiadaan kepercayaan antaranggota masyarakat. Manakala kepercayaan yang menjadi indikator kekuatan modal sosial menipis maka kebangkrutan sosial tinggal menunggu waktu.

Seperti halnya kebangkrutan ekonomi, kebangkrutan sosial bukanlah peristiwa yang tak bisa dihindari. Penguatan modal sosial adalah satu diantara banyak pilihan solusi. Modal sosial dapat diperkuat melalui pelembagaan dalam kelompok-kelompok sosial, mulai dari yang paling kecil yaitu keluarga sampai yang paling besar seperti halnya negara. Caranya, kata Fukuyama, dapat melalui mekanisme-mekanisme kultural seperti agama, tradisi, atau kebiasaan sejarah. Membangun kepercayaan melalui interaksi dalam lingkungan keluarga dan kehidupan bernegara merupakan hal penting, karena dengannya masyarakat akan terhindar dari kebangkrutan sosial yang mengancam.


#sosial politik
#realitas sosial
#semburat
#arif budiman
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID