logo rilis

Katingan 'Go' Organik
Kontributor
Kurnia Syahdan
04 Mei 2018, 11:09 WIB
Katingan 'Go' Organik
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pangan yang lebih sehat, bebas pestisida dan ramah lingkungan menuntut tersedianya pangan organik. 

Hal ini lebih membuka pasar produk pertanian organik di tanah air maupun ekspor. 

Ini juga mendorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintah Kabupaten Katingan menyiapkan lahan rawanya untuk pertanian organik, sebagai 
salah satu usaha yang dirintis dengan mengembangkan pertanian organik yang ramah lingkungan.

"Sebagai suatu kegiatan untuk menghasilkan pangan yang sehat, bebas dari obat-obatan dan zat-zat kimia yang dapat merugikan kesehatan masyarakat," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Katingan, Hendri, dalam Rakor Sosialisasi dan Koordinasi Kegiatan Dana APBN.

Kepala Balai Besar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, menyampaikan salah satu program pemerintah dalam rangka peningkatan kemandirian petani dan ketahanan pangan, antara lain dengan mobilisasi ekonomi domestik melalui pengembangan 1.000 desa organik dan pengembangan padi organik seluas 300.000 hektare di Kalimantan Tengah.

Menteri Pertanian melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), telah mengalokasikan dana khusus untuk kegiatan penanaman padi organik seluas 40.000 hektare.

Selain itu, Kalteng juga ditetapkan sebagai salah satu provinsi penyangga Pangan Nasional, dimana pada tahun 2018 ditetapkan sebagai daerah percontohan optimasi lahan rawa untuk pertanaman padi organik.

"Hal tersebut guna mendukung kebijakan ekspor beras organik yang sedang digalakkan saat ini," kata Hendri.

Ia melanjutkan, Kabupaten Katingan memang mempunyai potensi untuk mengembangan pertanian organik karena selain lahan yang tersedia masih cukup luas, juga ketersediaan bahan pupuk organik dan tanaman lokal yang dapat digunakan sebagai bio pestisida. 

Namun, dalam praktiknya sangat diperlukan kerja keras dari penerintah, petani/kelompok tani dan stake holder lainnya.

Berdasarkan SNI 6729:2016, pertanian organik adalah sistem produksi yang bagus untuk meningkatkan kesuburan tanah karena sistem pertanian organik mampu meningkatkan aktivitas biologi tanah,  memelihara kesuburan tanah dalam jangka panjang,  daur ulang tanaman dan biomasa fauna untuk menyediakan hara melalui adopsi kearifan lokal, serta inovasi teknologi. 

Pertanian organik diterapkan dengan meminimalkan input eksternal serta tidak menggunakan pupuk dan pestisida sintetis. 

Dalam prakteknya, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia, yaitu hambatan pemasaran dan ketertarikan konsumen, biaya sertifikasi yang relatif mahal untuk small holder, kesenjangan kerjasama petani dengan perusahaan swasta, persepsi yang berbeda tentang pengertian pertanian organik pada tingkat pengambil kebijakan, produsen dan konsumen, sehingga diperlukan sosialisasi yang gencar dan masif. 

Untuk mengatasi hal tersebut, Kepala Seksi PSP dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perikanan Provinsi Kalimantan Tengah, Agus, mengatakan bagi kelompok tani yang ingin mengembangkan padi organik, pemerintah akan menyediakan bantuan berupa benih, pupuk organik padat/kompos, pupuk organik cair/hayati dan dekomposer/pembenah tanah sebesar Rp7 miliar dengan lahan sawah seluas 2.900 hektare. 

Bantuan tersebut, berasal dari Ditjen PSP Kementerian Pertanian. 

Dengan bantuan tersebut, pendapatan petani akan meningkat secara nyata.

Salah seorang peserta rakor, Adrian,perubahan dari cara konvensional dengan pupuk anorganik menjadi pertanian organik bukan hal mudah, perlu pendampingan, pengawalan dan pengawasan serta kerjasama semua pihak dari persiapan lahan hingga pemasaran. 

"
Termasuk dukungan Kementerian Pertanian lainnya untuk pengembangan pertanian organik yaitu berupa penyediaan akses informasi tentang kesesuaian lahan potensial untuk pertanian organik, peningkatan teknologi, SDM dan diseminasi, serta regulasi dan bantuan sertifikasi.
 

Sumber: Rahmi Laela/M. Teddy S


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)