logo rilis

Kasus Bakamla KPK Target Anggota DPR Lain, Siapa Dia?
Kontributor
Tari Oktaviani
06 April 2018, 11:50 WIB
Kasus Bakamla KPK Target Anggota DPR Lain, Siapa Dia?
Anggota Komisi I DPR RI, Fayakhun Andriadi. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta—
Tersangka kasus dugaan suap pengurusan anggaran pengadaan satelit monitoring (satmon) di Badan Keamanan Laut (Bakamla) tahun anggaran 2016, Fayakhun Andriadi (FA) dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, ada banyak hal yang perlu didalami dari Fayakhun. Salah satunya perannya guna memuluskan anggaran tersebut.

"Tersangka FA diperiksa hari ini," ungkapnya di Jakarta, Jumat (6/4/2018).

Tak hanya itu saja, proses pemulusan anggaran di Komisi I oleh pihak-pihak lain juga terus didalami oleh penyidik. Ini mengingat munculnya fakta-fakta terkait hal tersebut di persidangan.

"Fakta-fakta persidangan juga bisa kita kroscek dalam proses pemeriksaan," ujarnya.

Febri menegaskan, KPK tidak berhenti mencari pihak-pihak lain yang diduga kecipratan uang haram dari proyek Bakamla itu. Menurutnya sepanjang ada alat bukti maka sudah pasti akan ditindaklanjuti KPK.

"Nanti kita lihat perkembangan-perkembangan berikutnya sepanjang buktinya ada," tutur Febri.

Dalam kasus ini KPK telah menetapkan Fayakhun sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla) tahun anggaran 2016.

Fayakhun diduga menerima ‎hadiah atau janji berupa uang setelah memuluskan anggaran proyek Bakamla. Dia mendapatkan imbalan 1 persen dari proyek senilai Rp1,2 triliun atau sebesar Rp12 miliar.

Selain itu, Fayakhun juga diduga menerima dana suap sebesar 300 ribu Dolar Amerika Serikat. Uang tersebut diduga diterima Fayakhun dari proyek pengadaan di Bakamla.

Sejumlah uang yang diterima Fayakhun tersebut berasal dari Direktur Utama Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Dharmawansyah yang diberikan melalui anak buahnya, M. Adami Okta. Uang tersebut diberikan dalam empat kali tahapan.

‎Dalam kasus ini muncul pula sejumlah nama anggota DPR yang disebut ikut menerima suap terkait proyek pengadaan alat satmon pada Bakamla. Mereka yakni, Politisi PDI Perjuangan, TB. Hasanuddin dan Eva Sundari; Politikus Golkar, Fayakhun Andriadi; serta dua politisi NasDem, Bertus Merlas dan Donny Priambodo.

Hal tersebut terungkap ketika Direktur PT Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Darmawansyah bersaksi untuk terdakwa mantan pejabat Bakamla, Nofel Hasan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam kesaksiannya, Fahmi mengakui pernah memberikan uang sebesar Rp24 miliar atau enam persen dari nilai total proyek alat satmon Bakamla sebesar Rp400 miliar kepada Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi selaku narasumber Bakamla.

Lalu uang tersebut diduga telah disalurkan Ali Fahmi kepada sejumlah anggota DPR untuk meloloskan anggaran proyek Bakamla ini.‎ Namun, KPK belum dapat mendalami lebih lanjut keterangan dari Ali Fahmi mengingat hingga hari ini belum diketahui keberadaan.

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)