logo rilis

Kasus Bakamla, Fayakhun Sebut Dikenalkan 3 Orang Keluarga Jokowi
Kontributor
Tari Oktaviani
17 Oktober 2018, 17:01 WIB
Kasus Bakamla, Fayakhun Sebut Dikenalkan 3 Orang Keluarga Jokowi
Mantan anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fayakhun Andriadi. FOTO: RILSI.ID

RILIS.ID, Jakarta— Mantan anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fayakhun Andriadi yang juga terdakwa kasus dugaan suap proyek Bakamla RI mengaku dikenalkan dengan keluarga Joko Widodo oleh Fahmi Habsyi yang belakangan diketahui merupakan staf khusus bidang penganggaran Kepala Bakamla. Menurutnya, Fahmi Habsyi meminta agar proyek ini dimuluskan lantaran sudah mendapat dukungan dari keluarga Joko Widodo.

Hal itu disampaikan oleh Fayakhun dalam sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan terdakwa hari ini, Rabu (17/10/2018) di pengadilan tipikor Jakarta. Menurutnya, perkenalan itu terjadi saat pertemuan di Hotel Gran Mahakam, Jakarta Selatan.

"Saya lihat dia (Fahmi Habsyi) bersama teman dan saya dikenalkan. Saya duduk ternyata dikenalkan ini 'Kun' kita harus bantu bakamla untuk menjadi besar karena ancaman nasional ada di laut dan kita dibantu kekuasaan untuk itu. Dikenalkan 3 orang katanya dari keluarga solo, Om Pak Jokowi, Adik Pak Jokowi dan Paman Pak Jokowi," kata Fayakhun.

Fayakhun mulanya menceritakan kepada majelis hakim terkait awal mula ia diminta memuluskan proyek Bakamla di Komisi I DPR. Awalnya, Fayakhun mengaku dikenalkan dengan Direktur Utama PT Merial Esa yang menggarap proyek di Bakamla, Fahmi Darmawansyah yangnjuga merupakan terpidana kasus yang sama. Fayakhun dikenalkan dengan Fahmi oleh Direktur Manajer PT Rohde and Schwarz, Erwin Arief.

Hubungan Fayakhun dengan Erwin Arief memang sudah lama. Ia mengatakan Erwin merupakan salah satu sahabatnya.

"Erwin cerita mau main proyek di Bakamla pakai perusahaan Fahmi Darmawansyah, 'Tolong dibantu', terus saya bilang, 'Bakamla gimana?' Erwin jawab, 'Nanti diarahkan kepada Fahmi Habsyi'," ucap Fayakhun.

Perkenalan Fayakhun dengan Fahmi Habsyi sendiri berlanjut melalui TB Hasanuddin yang merupakan sesama anggota Komisi I DPR.  Fayakhun pun mulai menjalin komunikasi dengan Fahmi Habsyi dengan menanyakan apakah benar Fahmi Darmawansyah ingin menggarap proyek di Bakamla.

"Fahmi Habsyi mengiyakan. Dalam benak saya, Pak TB Hasanuddin mengetahui, akhirnya tidak komunikasi lanjut. Kemudian Fahmi Habsyi ngotot pengin ketemu saya," ujar Fayakhun.

Kemudian terjadilah pertemuan di Hotel Gran Mahakam, Jakarta Selatan dimana Fahmi Habsyi membawa orang yang diakuinya berasal dari keluarga Jokowi.

Saat itu, menurut Fayakhun, Fahmi Habsyi kembali memintanya membantu proyek di Bakamla. "Kemudian Fahmi bilang, 'Tolong bantulah, nama kamu akan bagus di karier politik partai dan DPR'. Fahmi juga sudah komunikasi dengan Pak (Setya) Novanto," ujar Fayakhun.

Sementara itu, hal ini pun mendapat respon dari pihak Istana. Mengutip detik.com, Koordinator Staf Khusus Teten Masduki menilai penyebutan nama keluarga Jokowi bisa saja hanya pencatutan.

"Bisa saja itu mencatut nama keluarga Pak Jokowi," kata Teten.

Menurut Teten, sepengetahuannya, Presiden Jokowi melarang keras keluarganya terlibat urusan bisnis.

"Setahu kami Pak Jokowi melarang keras keluarganya terlibat urusan bisnis dengan pemerintah atau BUMN. Kami di Istana sering dapat arahan dari Pak Jokowi agar jangan sampai ada keluarga yang memanfaatkan pengaruhnya untuk kepentingan bisnis. Di antara kami di Istana diminta menyampaikan pesan ini kepada para menteri dan pimpinan BUMN," tegas Teten.

Diketahui dalam perkara ini, Fayakhun didakwa menerima suap berupa U$D 911.480 atau sekitar Rp13 miliar dari Fahmi Darmawansyah. Uang suap itu dimaksud agar Fayakhun menambahkan anggaran Bakamla untuk proyek pengadaan satellite monitoring dan drone.

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)