logo rilis

Kartini Dulu, Kini dan Masa Mendatang, Ini Pesan Menteri PPPA
Kontributor
Elvi R
21 April 2018, 08:56 WIB
Kartini Dulu, Kini dan Masa Mendatang, Ini Pesan Menteri PPPA
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— "Orang mencoba membohongi kami, bahwa tidak kawin itu bukan hanya aib, melainkan dosa besar pula. Telah berulang kali itu dikatakan kepada kami. Aduhai! Dengan menghina sekali orang sering kali membicarakan perempuan yang membujang!"

Sepenggal cerita ini adalah kisah yang diceritakan oleh Raden Ajeng (RA) Kartini dalam suratnya yang diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Cerita RA Kartini tentang perempuan di masa lalu ini menggambarkan bagaimana kaum perempuan menjadi hina jika berstatus tidak kawin.

Kawin menjadi standar seorang perempuan di hargai di masa lampau. Mirisnya banyak kaum perempuan yang kawin bukan karna kehendak sendiri tetapi justru karena tuntutan budaya. Kartini berkisah "Kami anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat, kami harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain. Bahwa tahu, mengerti, dan menginginkan itu dosa bagi anak perempuan".

Lalu apakah nasib yang di alami kartini dan perempuan di masa lampau masih di alami kaum perempuan di masa kini?

Council of Foreign Relations mencatat bahwa Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh Negara atau tepatnya di urutan ketujuh dengan angka absolut pengantin anak tertinggi di dunia; dan tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 telah melakukan riset mengenai jenjang pendidikan yang ditempuh oleh perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah atau di atas 18 tahun. Hasilnya cukup memprihatinkan, sebesar 94,72 persen perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin dan melakukan perkawinan di bawah usia 18 tahun putus sekolah. Sementara, yang masih bersekolah hanya sebesar 4,38 persen.

Hal ini menjadi miris,karena kaum perempuan masih dibayangi momok untuk melakukan perkawinan di usia muda, tidak hanya di zaman Kartini tapi juga di zaman now.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise mengatakan, perkawinan bukan hal yang buruk jika dilakukan di usia yang tepat dengan persiapan yang matang. Namun, perkawinan di usia anak justru akan membawa permasalahan baru bagi kaum perempuan. Dimulai dari hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, risiko ancaman dari penyakit reproduksi seperti kanker serviks, kanker payudara dan juga hidup dalam keretakan keluarga.

"Karena ketidaksiapan mental mereka dalam membangun keluarga, sehingga menimbulkan perceraian", ungkap Yohana, di Jakarta, Sabtu (21/4/2018).

Menurutnya, pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi perempuan. Karena, penerus perempuan juga memiliki andil dalam memajukan negara. Dia pun optimis perempuan yang menjadi Kartini masa kini mampu meneruskan mimpi di masa akan datang

"Saya berharap kaum perempuan muda Indonesia mampu menentukan masa depannya dengan mengutamakan pendidikan. Kalian lah para penerus estafet mimpi-mimpi R.A Kartini untuk memajukan bangsa. Kaum perempuan mampu berkarya tidak hanya melulu dengan urusan sumur dapur kasur, tetapi juga di ranah publik," kata Yohana.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)