logo rilis

Kapital, Status Sosial, dan Politik
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
20 Desember 2017, 14:20 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Kapital, Status Sosial, dan Politik

DALAM satu dekade terakhir, banyak kalangan terenyak oleh kenyataan bahwa politik telah dikuasai kalangan kaya yang sebagian besarnya tidak memiliki rekam jejak dalam dunia politik dan aktivisme. Keheranan karena seolah-olah fenomena bahwa orang kaya berkuasa dalam politik adalah fenomena baru. 

Sepanjang sejarah Indonesia pasca kemerdekaan, struktur politik diisi oleh para aktivis dan elite militer yang berparadigma dwifungsi. Namun, tidak sampai satu dekade pasca reformasi, kedua basis kekuasaan tersebut tergantikan oleh harta kekayaan. Mereka yang memiliki harta kekayaan yang melimpah, lebih mudah untuk melakukan mobilitas politik, baik untuk mengisi struktur partai politik maupun secara langsung mengisi jabatan kenegaraan, terutama eksekutif dan legislatif, dengan menjadikan partai politik sebagai sekadar “kendaraan rental”.

Baca Juga

Hampir seluruh partai politik di Indonesia saat ini berada di bawah kepemimpinan para pengusaha sukses. Mereka mengalahkan para aktivis dan juga kalangan militer yang setengah abad lebih berjaya dalam politik. 

Partai Golkar misalnya, dari Akbar Tandjung yang aktivis tulen, berpindah kepada JK yang aktivis dan sekaligus pengusaha tulen, lalu direbut oleh Aburizal Bakri yang pengusaha tulen, lalu direbut oleh Setya Novanto, dan baru saja berpindah kepada Airlangga Hartarto. 

PAN juga mengalami hal serupa, dari Prof. Dr. Amien Rais yang akademisi dan aktivis tulen, berpindah kepada Sutrisno Bachir yang pengusaha tulen, berpindah ke Hatta Rajasa yang pengusaha dan memiliki sedikit rekam jejak sebagai aktivis masjid, dan berakhir kepada Zulkifli Hasan yang lebih menonjol karena sisi pengusahanya. 

Partai-partai lain, dengan sedikit pola agak berbeda dialami oleh PKB, sesungguhnya juga mengalami hal yang sama. PKS bisa dikatakan adalah pengecualian. Bahkan partai-partai baru langsung didirikan oleh mereka yang berlatar belakang pengusaha sukses, di antaranya Perindo.

Kekagetan terhadap fenomena baru ini disebabkan oleh para pendiri negara ini bukanlah orang-orang kaya. Soekarno misalnya, hanyalah seorang aktivis yang didukung oleh Ibu Inggit yang hanya seorang penjual jamu. Para politisi paling menonjol pada masa awal kemerdekaan juga bukan orang-orang kaya. 

Singkatnya, Indonesia dibangun oleh orang-orang yang tidak masuk dalam kategori kapitalis. Berbeda dengan negara-negara Barat yang dibangun oleh kaum kapitalis. Negara dibangun untuk melindungi kekayaan mereka agar tidak dijarah. Inilah yang membuat paradigma tentang fungsi kekuasaan di Indonesia dengan negara-negara Barat sangat berbeda. Karena itulah, ketika terjadi perubahan karakter kepemimpinan, muncul keterkejutan.

Sesungguhnya, sudah sejak lama harta dan kekuasaan seolah terbangun dalam relasi sebab akibat yang kemudian bersatu sebagai dua sisi dari sekeping mata uang. Dengan harta, orang bisa meraih kekuasaan. Sebaliknya, dengan kekuasaan, orang bisa menumpuk harta kekayaan. Demikian pula, jika kekuasaan hilang, maka harta kekayaan akan berkurang dan bahkan kemudian bisa menyusul habis atau hilang. Sebaliknya, tanpa uang, kekuasaan bisa melayang. Sebab, kekuasan harus dipertahankan dengan segenap sumber daya yang semuanya memerlukan pembiayaan yang sangat besar.
 
Harta kekayaan menjadi basis kekuasaan sudah berlaku pada era para nabi, di antaranya ketika Nabi Samuel mengatakan kepada Bani Israil bahwa Thalut adalah pemimpin mereka untuk mengalahkan Raja Jalut (Goliat). Awalnya mereka tidak bisa menerimanya karena mereka menganggap bahwa mereka lebih berhak, terlebih karena Jalut tidak memiliki harta kekayaan yang melimpah.

Nabi Samuel meyakinkan bahwa Thalut layak menjadi raja mereka, karena memiliki keunggulan fisik dan keilmuan. Jika pun harta kekayaan tidak bias langsung digunakan untuk merebut kekuasaan, harta kekayaan bisa digunakan untuk memperkuat status sosial. Dengan harta kekayaan dan status sosial yang tinggi, kekuasaan lebih mudah untuk diraih.

Kitab Khalilah wa Dimnah, sebuah kitab saduran oleh Ibn al-Muqaffa telah memberikan gambaran bahwa modal harta kekayaan sangat penting untuk membangun kepercayaan masyarakat kepada seseorang. Dari sini, status sosial yang tinggi bisa raih. Dalam buku fabel itu, Ibn al-Muqaffa mengetengahkan sebuah cerita tentang sekelompok tikus yang ingin melenyapkan kucing dari kota yang mereka tinggali karena mereka merasa selalu terancam oleh kucing. 

Raja tikus memanggil para penasihatnya untuk meminta masukan tentang langkah untuk menghadapi masalah itu. Penasihat I mengusulkan untuk mengalungkan lonceng kecil di leher semua kucing, agar ketika mereka mendekat, para tikus bisa langsung lari ke dalam lubang persembunyian. Namun, usul itu ditolak oleh penasihat II karena tidak mungkin mengalungkan lonceng kecil di leher kucing. Oleh anak kucing saja mereka bisa dimangsa, tentu saja sangat tidak mungkin mengalungkannya ke kucing besar. 

Lalu dia mengusulkan agar melakukan migrasi total ke kota lain selama setahun. Jika dalam setahun masyarakat kota tersebut merasa tidak ada tikus lagi, maka mereka akan membuang kucing-kucing mereka. Raja tikus kemudian meminta pertimbangan kepada penasihat III.

Olehnya, pandangan penasihat II juga dianggap tidak realistis, karena di kota lain mereka harus berjuang menghadapi kucing-kucing yang tak kalah ganas. Lalu dia mengusulkan agar seluruh tikus di kota itu membuat lubang yang menghubungkan dengan rumah orang yang paling kaya untuk menjalankan sebuah skenario besar. Pada malam pertama mereka akan merusak dua lajur karpet yang ada di rumah tersebut. Karena melihat kerusakan itu, maka pemilik rumah menduga bahwa tikus telah berkembang biak luar biasa. Karena itu, dia harus menambah jumlah kucing. 

Malam berikutnya, kawanan tikus datang dengan jumlah yang lebih banyak dan merusak tiga lajur karpet. Pemilik rumah lalu menambah lagi kucing, agar bisa mengatasi masalah kerusakan karpet. Namun, pada malam berikutnya, jumlah karpet yang rusak justru bertambah. Akhirnya, dia berasumsi bahwa yang merusak sebenarnya justru bukan tikus, tapi kucing. Maka dia kemudian mencoba untuk membuktikan asumsinya itu dengan membuang seekor kucing. 

Melihat itu, kawanan tikus mengurangi daya rusak mereka. Keesokan paginya, asumsi pemilik rumah menjadi semakin kuat bahwa yang merusak karpet bukanlah tikus, melainkan kucing. Lalu dia membuang seekor lagi kucing di rumahnya. Melihat itu, kawanan tikus mengurangi kerja perusakan mereka satu lajur karpet lagi. Akhirnya, pemilih rumah benar-benar berkesimpulan bahwa yang merusak karpet di rumahnya bukanlah tikus, melainkan kucing.

Karena keyakinannya itu, maka dia kemudian memberitahukan kepada seluruh penduduk kota bahwa mereka tidak perlu lagi memelihara kucing. Sebab, justru kucinglah yang merusak barang-barang di rumah mereka, bukan tikus, sebagaimana selama ini mereka yakini. Karena informasi orang terkaya itu, semua penduduk kota membuang kucing mereka, sehingga tidak ada lagi kucing di kota itu. Tikus pun kemudian menikmati kebebasan mereka dari ancaman kucing. Wallahu a’lam bi al-shawab.   


#paradigma
#kapital
#status sosial
#politik
#mohammad nasih
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID