logo rilis
Kapal Rusia Buronan Interpol Bawa 20 ABK WNI
Kontributor
Syahrain F.
18 April 2018, 16:47 WIB
Kapal Rusia Buronan Interpol Bawa 20 ABK WNI
KKP bersama Tim Satgas 115 bersinergi dengan TNI AL, dan Tim Penyidik Kepolisian berhasil menangkap kapal ikan STS-50 yang menjadi buruan Interpol, Jumat (6/4/2018). Ketika ditangkap, STS-50 memiliki 20 ABK (14 WNI dan enam warga Rusia termasuk nahkoda dan kepala kamar mesin kapal). FOTO: Dok. KKP

RILIS.ID, Jakarta— Puluhan pria asal Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan dipastikan menjadi korban penipuan agen penyalur ABK (Anak Buah Kapal) sekaligus diduga sebagai korban perdagangan orang. 

Agen bernama PT GSJ tersebut mengirimkan 20 orang ABK untuk bekerja di sebuah Kapal Rusia bernomor lambung STS-50. 

Penipuan terungkap setelah Satuan Tugas 115 yang menaungi tim gabungan antara TNI Angkatan Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta penyidik Polri dan Kejaksaan memeriksa Kapal STS-50 di Pulau Weh, Sabang, Sumatra Utara pada 11-12 April lalu.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan, kapal STS-50 telah masuk dalam daftar buronan Interpol. Pasalnya, kapal tersebut tercatat dua kali melarikan diri pada saat ditahan dan diperiksa oleh pemerintah Cina dan Mozambik.

“Para ABK diberangkatkan oleh agen penyalur melalui tiga kelompok. Kelompok pertama dikirim pada 25 Mei 2017 sebanyak empat orang ke Vietnam, disusul kelompok kedua pada 5 Agustus 2017 dengan jumlah 10 orang dan juga ke Vietnam, sedangkan yang ketiga mereka memberangkatkan enam orang ke Tiongkok pada 12 Desember 2017,” tutur Menteri Susi di kantornya, Jakarta, Rabu (18/4/2018), melansir kantor berita Anadolu Agency.

Dari hasil pemeriksaan terhadap puluhan ABK tersebut, tim Satgas mendapati para ABK dijanjikan gaji sebesar US$350 hingga US$380 per bulan. Namun, kata Menteri Susi, gaji para ABK selama dua bulan pertama malah ditahan sebagai jaminan penyelesaian kontrak.

“Mereka juga dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 2,5 juta yang harus dibayarkan selama lima bulan. Jika para ABK ini tidak bekerja di atas kapal, mereka diancam pemotongan gaji hingga US$20-US$30,” kata dia.

Lebih lanjut, Satgas 115 kemudian mengetahui Kapal STS-50 sempat ditahan dan diperiksa oleh Pemerintah Cina, tepatnya di Dalian Port, pada 22 Oktober lalu. Namun dia melarikan diri di hari yang sama.

Para ABK tersebut mengaku, dokumen, paspor beserta buku pelaut mereka telah diambil oleh petugas pemeriksa di Cina. Kemudian, kapal sempat kembali bersandar di Cina, dua bulan kemudian tepatnya pada 12 Desember.

“Saat itu mereka mengambil enam orang ABK Indonesia (kelompok ketiga), bersama dokumen kapal dan dokumen perjalanan para awak kapal,” jelas Menteri Susi.

Setelah mendapatkan dokumen baru yang diduga palsu, kapal buronan Interpol itu kemudian melanjutkan operasinya di Mozambik dan kembali ditahan oleh pemerintah setempat pada saat bersandar di Maputo Port.

Puluhan ABK Indonesia yang berada di dalam kapal itu mengaku telah melakukan mogok kerja ketika kapal ditangkap pertama kali di Cina. Mereka juga telah mencoba menghubungi agen penyalur yakni PT GSJ.

Namun permintaan mereka ditolak dan malah diancam harus membayar denda pembatalan kontrak sebesar Rp 6 juta dan uang sejumlah US$25 per hari jika status mereka berubah menjadi penumpang kapal.

“Saat ini kapal sudah kami pegang. Kami akan terus berkoordinasi dengan mitra internasional kami yaitu Interpol, Australia, Selandia Baru, Togo, Cina dan Mozambik untuk menelusuri mastermind dan beneficial owner (pemilik tertulis) dari Kapal STS-50,” ujar Susi.

 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)