logo rilis
Kaki Gunung Sopotan Minahasa Jadi Pengembang Cabai dan Bawang Merah
Kontributor
Ning Triasih
07 Juli 2018, 23:38 WIB
Kaki Gunung Sopotan Minahasa Jadi Pengembang Cabai dan Bawang Merah

RILIS.ID, Minahasa— Sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara (Sultra) dengan sumber air yang cukup dari Danau Tondano, Minahasa punya potensi luar biasa untuk pengembangan cabai dan bawang merah, khusunya di wilayah kaki Gunung Sopotan.

Hamparan tanahnya yang subur, menjadikan kabupaten ini sangat mendukung untuk pengembangan tanaman hortikultura tersebut. Selain itu, lokasinya yang berbatasan langsung dengan ibu kota Provinsi Sultra, makin mempermudah Kabupaten Minahasa memasok cabai dan bawang merah ke Kota Manado dan sekitarnya, sehingga kebutuhan cabai dan bawang merah untuk masyarakat Sulut dapat terpenuhi dari hasil lokal. 

Kadis Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara Novly Wowiling mengatakan, Sultra sangat prospektif dalam pengembangan kawasan hortikultura. Kawasan MODASI yang meliputi Kecamatan Mondoinding (Minsel), Modayag (Bolaang Mongondow Timur) dan Passi (Bolaang Mongondow) bisa mencapai 12.000 hektare. 

Selain itu, kawasan lainnya yang potensial adalah kaki Gunung Soputan seluas 500 hektare, meliputi Kecamatan Tompaso Barat dan Langoan Barat. 

"Dengan potensi yang dimiliki Sultra ini, kami siap mengamankan pengembangan kawasan hortikultura khususnya menjaga stabilisasi pasokan aneka cabai dan bawang merah serta siap menyukseskan swasembada bawang putih 2021 seperti yang diamanahkan oleh Bapak Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman," ujarnya.

Sementara tu, menurut Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa, Elke, produksi aneka cabai pada 2016 mencapai 3.382 ton dan meningkat 25 persen di 2017 menjadi 4.229 ton. Luas panen aneka cabai pada 2017 sebesar 535 hektare. 
Sementara pada April 2018, ketersediaan aneka cabai di Minahasa mencapai 190 ton, sedangkan pada Mei sebanyak 76 ton. 

“Kondisi ini mampu menyuplai cabai sebesar 20 persen dari jumlah produksi aneka cabai di Sulawesi Utara. Ini menandakan bahwa Minahasa secara umum telah mampu memenuhi kebutuhan cabai lokal bahkan bisa menjadi penyangga wilayah Sulawesi Utara," terangnya.

Sementara untuk bawang merah, sepanjang 2017 tercatat produksi di Minahasa mencapai 1.698 ton. Luas panennya sebesar 263 hektare, meningkat 5,62 persen dari tahun sebelumnya. 

“Minahasa merupakan produsen bawang merah terbesar di Sulawesi Utara. Produksinya tahun 2017 menyumbang 59 persen dari produksi bawang merah Sulawesi Utara. Varietas yang dominan ditanam oleh petani kami adalah Super Philips dan Batu Ijo. Ini potensi yang sangat besar, harus terus didukung untuk dikembangkan," tutur Elke.

Elke menambahkan, lokasi sentra cabai dan bawang merah di Minahasa tersebar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Tombulu, Langowan Barat dan Langowan Timur, sedangkan sentra bawang merah berada di Kecamatan Tompaso Barat dan Tompaso. Dalam hal ini, 

Kementerian Pertanian ikut berperan dalam pengembangan cabai dan bawang merah di Minahasa melalui alokasi dana APBN. 

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Prihasto Setyanto mengatakan, alokasi APBN di Kabupaten Minahasa pada tiga tahun terakhir yaitu untuk cabai rawit 190 hektare dan bawang merah 255 hektare. Selain di Kabupaten Minahasa, dana APBN pada tiga tahun terakhir juga dialokasikan di Kota Tomohon yaitu untuk cabai rawit 110 hektare dan Cabai besar 60 hektare.

“Kami berharap dengan adanya sentuhan APBN mampu mendorong pengembangan kawasan cabai dan bawang merah sehingga Minahasa mampu menjadi penyangga cabai dan bawang merah di Sulawesi Utara”, jelasnya.

Dengan melimpahnya produksi cabai dan bawang merah di Minahasa, membuat harga kedua komoditas yang sering menyebabkan inflasi tersebut tetap aman dan stabil. Terpantau pada tanggal 6 Juli 2018 harga cabai merah keriting di tingkat petani sebesar Rp 20 ribu per kilogram, sama dengan harga bawang merah yang juga sebesar Rp20.000 per kilogram. 

Salah satu petani cabai dan bawang merah di Minahasa mengungkapkan, ketersediaan cabai dan bawang merah di Minahasa Selatan tercukupi. Bahkan pada saat Idul Fitri lalu, harga cabai dan bawang merah tetap stabil. H-1 lebaran, harga cabai merah keriting berada pada Rp15.000, sedangkan harga bawang merah tetap stabil Rp20.000. 

“Kami berusaha mengatur pola tanam cabai dan bawang merah agar pasokan kedua komoditas tersebut selalu tersedia sepanjang tahun sehingga harganya selalu stabil”, pungkasnya.

Menurut Dicky, Ketua Kelompok Tani Berkat Anugerah di Kelurahan Tataran Dua Kecamatan Tondano Selatan, kelompok binaannya mengembangkan aneka cabai dan bawang seluas 20 hektare. 

"Kami bekerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi Sulut dalam mengoptimalkan alsin dalam rangka pembukaan lahan.  Cabai kami tanam dengan 
sistem tugal tanam langsung, sebagian lahan  juga kami siapkan untuk pertanaman bawang putih dan bawang merah karena kondisi agroklimatnya sangat cocok," ungkapnya.

Adapun harga cabai CRM Rp40.000, cabai merah keriting Rp20.000 dan bawang merah Rp20.000. Mereka pun mengaku siap menyangga pasokan dan ketersediaan aneka cabai dan bawang merah untuk wilayah Sulawesi Utara.

Hal senada diungkapkan Boby Muaya, Ketua Kelompok Revolusi Mental Desa Toire Kecamatan Tompasa Barat. 

"Kelompok binaan kami mengembangkan Varietas Lassuna lokal dan Super Philips, rata-rata produktivitas 12 ton per hektare. Adapun lokasi perluasan areal tanam bawang putih di wilayah kami  bisa mencapai 200 hektare. Khusus untuk komoditas bawang merah dan tomat yang kami kembangkan pasarnya lokal dan bahkan untuk memasok Ternate, Sorong dan Manokwari," kata Boby.

Di samping itu, Ketua Kelompok Tani Kerja Fungsional Desa Toure Kecamatan Tompasa Barat, Jemmy Kaligis, mengatakan jika is  menanam cabai merah keriting umur 1,5 bulan varietas TM 99.  Panen rata-rata 16 kali panen, dengan tujuan memenuhi kebutuhan pasar Ternate dan Kabupaten Sorong.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID