logo rilis

KAHMI untuk NKRI
Kontributor
RILIS.ID
14 Maret 2018, 10:58 WIB
KAHMI untuk NKRI
ILUSTRASI: Hafiz

Oleh Prof. Dr. R. Siti Zuhro 
Koordinator Presidium MN KAHMI Masa Bakti 2017-2022

JAUH sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lahir, bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang majemuk. Di dalam kemajemukan itulah, segenap komponen bangsa memiliki cita-cita dan mimpi yang sama untuk membangun NKRI demi mewujudkan kesejahteraan yang sama dan berkeadilan. 

Sila ke-5 Pancasila penting untuk digarisbawahi dan diingat oleh semua anak bangsa karena tanpa “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” nasib NKRI bukan tak mungkin akan mengikuti jejak negara Uni Soviet atau Yugoslavia yang kini telah menjadi kenangan sejarah dunia. Oleh karena itu, pidato Sukarno yang disampaikan di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni 1945, patut untuk terus dicamkan dalam kesadaran berbangsa semua anak bangsa.

“Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!”

Belakangan ini, tanda-tanda adanya kekurangmesraan hubungan sosial antaranak bangsa semakin terasakan. Meskipun intensitasnya masih rendah. Tak dapat dinafikan bahwa di beberapa daerah isu SARA menyeruak dalam pilkada serentak dan pemilu. Fenomena ini, terutama, tampak dari banyaknya ungkapan ujaran kebencian dan berita-berita hoaks di media sosial. 

Fenomena tersebut jelas tak bisa dibiarkan secara hukum negara, maupun agama karena dampak sosial dan politiknya yang tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup bangsa dan NKRI. Apalagi di tahun-tahun politik sekarang ini.

Penegakan hukum yang dilakukan pihak berwenang terhadap sejumlah pelaku ujaran kebencian dan penyebar berita hoaks patut diapresiasi. Tetapi, hal tersebut tidak cukup karena sifatnya yang seperti pemadam kebakaran yang memadamkan api di semak-semak belukar yang luas dan tebal di musim panas yang kering. 

Tindakan tersebut seyogyanya diikuti dengan mengatasi pokok persoalan utamanya secara terprogram dan sistematis, yakni tingginya tingkat kesenjangan sosial dan ekonomi yang dirasakan rakyat. Masih segar dalam ingatan kita peristiwa tragedi kemanusiaan dan SARA 1998 yang, antara lain, juga dipicu oleh adanya kesenjangan ekonomi yang tinggi.

Sekadar gambaran, mengutip laporan Oxfam dan International NGO Forum on Indonesia Development (INFID), tingkat ketimpangan rakyat Indonesia berada pada posisi keenam terburuk di dunia. Sekitar 1 persen orang terkaya Indonesia menguasai 49 persen total kekayaan Indonesia (pada tahun 2016), dan 10 persen orang terkaya, menguasai 77 persen total kekayaan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS)  juga memperlihatkan bahwa  tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia  yang diukur oleh Gini Ratio mencapai  0,393 pada Maret 2017.

Disparitas yang tinggi juga tampak antardaerah. Hingga saat ini pembangunan masih terkonsentrasi di Jawa.  Gambaran ini, misalnya, terlihat dari sebaran daerah tertinggal. Provinsi dengan daerah tertinggal terbanyak berada di provinsi Papua sebanyak 25 kabupaten, disusul Nusa Tenggara Timur (17 kabupaten), Papua Barat (7 kabupaten), Sulawesi Tengah (9 provinsi), dan Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Barat (8 Kabupaten).

Persoalan tersebut jelas tak bisa ditimpakan sepenuhnya hanya pada pemerintah. Sebagai bagian dari warga negara yang beruntung, KAHMI memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang sama untuk turut mengatasi dan memberikan kontribusinya. Sebab, KAHMI adalah organisasi intelektual muslim – tempat berkumpulnya insan-insan cendekia yang telah beruntung bisa menikmati pendidikan tinggi dan pekerjaan/profesi yang lebih baik. Sementara untuk diketahui, hingga 2017, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia masih berada sekitar 8,42 tahun. Dengan kata lain, mayoritas rakyat Indonesia masih belum menikmati jenjang pendidikan tinggi.

Sesungguhnya bangsa Indonesia bukan bangsa yang rasis, melainkan bangsa yang menghargai kemajemukan. Tetapi, pengalaman sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kesenjangan sosial ekonomi yang tinggi berpotensi menjadi bom waktu yang ketika meledak, letupannya tak urung memancarkan pula aroma “rasis”. 

Kita berharap tragedi 1998 tidak lagi berulang. Oleh karena itu, sebagai organisasi intelektual yang besar, KAHMI, perlu menunjukkan eksistensinya sebagai pelopor pembangunan yang memiliki empati dan kepedulian yang tinggi pada saudara-saudara kita yang belum beruntung, yakni kaum mustad’afin (kelompok lemah). Empati dan kepedulian tersebut bukan sekadar panggilan negara, melainkan juga karena panggilan agama seperti yang dikatakan sebuah hadis Nabi Muhammad  SAW, Khoirukumánfaúhumlinnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat manusia). 

Satu hal yang penting untuk diingat adalah bahwa yang menyatukan kita semua dalam KAHMI adalah identitas keislaman kita. Profesi-profesi kita beragam, kita memiliki chemistry atau ikatan batin yang sama, yakni bahwa kita memiliki nilai-nilai agama yang sama yang harus menjadi panduan hidup kita sebagai orang yang beragama, yakni Islam. 

Sekadar untuk diingat kembali, tujuan utama lahirnya HMI (KAHMI) selain untuk mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia, juga untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Untuk itu, sebagai bagian dari insan cendekia, seyogyanya alumni HMI tidak lagi berpikir secara linear, tetapi secara lateral untuk bisa melakukan terobosan-terobosan yang mempercepat terwujudnya cita-cita bangsa, keadilan dan kemakmuran bersama. 

Persoalan yang dihadapi Indonesia sangat banyak, mulai dari ketimpangan ekonomi, ketimpangan pendidikan, hingga masalah kekurangharmonisan hubungan anak bangsa yang makin terasa belakangan ini. Maka, di mana pun alumni HMI berkarier, baik dalam partai politik, pemerintahan, maupun organisasi sosial apa pun, alumni HMI dituntut untuk bisa menjadi perawat kemajemukan dan penjaga NKRI dalam kesatuan nilai Islam. 

Untuk itu, yang sangat dibutuhkan adalah adanya kesamaan langkah, semangat, soliditas dan sinergi yang kuat antaranggota KAHMI. Hal yang sama seyogyanya juga perlu kita jalin dengan komponen-komponen bangsa lainnya, apapun agamanya sebagai bagian dari anak bangsa yang mempersatukan kita sebagai saudara sebangsa. KAHMI harus tampil sebagai garda terdepan menjadi perekat soliditas dan sinergitas bangsa.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)