logo rilis
Kacang Hijau “Vima”: Varietas Unggul Baru Genjah, Polong Masak Serempak
Kontributor
Elvi R
21 September 2019, 19:39 WIB
Kacang Hijau “Vima”: Varietas Unggul Baru Genjah, Polong Masak Serempak
Petani menanam kacang hijau Vima 1 di Demak, Jateng. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Hingga saat ini, Balitbangtan telah merilis 5 VUB kacang hijau dengan karakter genjah dengan polong masak fisiologis serempak. Karakter unggul tersebut sebagaimana yang dikehendaki petani karena memudahkan dalam perawatan dan efisien tenaga kerja karena tidak harus berkali kali panen sebagaimana varietas lokal yang panennya 2-3 kali.

Diseminasi Vima
Beragam event pameran, gelar teknologi, demplot, hingga kunjungan laangsung ke Balitkabi, serta visitor plot di beberapa BPTP dilakukan untuk menderaskan informasi dan keunggulan VUB kacang hijau tersebut ke end user hingga masyarakat luas. Penuturan petani di semua lokasi demplot sangat puas dan “ketagihan” untuk kembali membudidayakannya lagi. Dari petani di Sumenep Madura di laporkan, hasil panen Vima 3 mencapai 2,7 ton per hektare. Petani Grobogan dan Demak menyampaikan informasi panen Vima 1 mencapai 2 ton/ha, padahal cara menanamnya dengan menyebarkan benih kacang hijau setelah panen padi MT 2 dan tanpa tambahan pupuk. Mereka juga menyatakan bahwa panen Vima lebih hemat biaya karena cukup sekali akibat polong matang serempak. Disamping itu, petani juga menyatakan bahwa Vima lebih tahan terhadap hama trips dan kutu kebul dibanding varetas lokal yang biasa mereka tanam pada musim yang sama tahun sebelumnya.

Benih dan lisensi
Kelebihan Vima tersebut mengakibatkan permintaan benihnya meningkat drastis, meskipun belum lama dirilis Balitbangtan. Bagai gayung bersambut, peluang penyediaan benih Vima bermutu ternyata langsung menarik swasta untuk mengembangkannya lebih lanjut, terutama produksi benih sebarnya. Balitbangtan melalui Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP) memberikan lisensi non ekslusif untuk memastikan ketersediaan benih dengan jaminan kualitas tinggi dan kotinyu di masyarakat. Tercatat dua (2) perusahaan telah tercatat sebagi lisensor benih Vima, yaitu CV Semi dari Grobogan Jawa Tengah, serta PT East West Indonesia yang memiliki kebun produksi di Purwakarta.
 
Anthony, direktur CV Semi Grobogan, salah satu lisensor kacang hijau varietas Vima menyampaikan bahwa sebagai tanaman ketiga sebelum memasuki MT tahun berikutnya, budidaya kacang hijau sangat menguntungkan. Apalagi Badan Litbang Pertanian telah melepas varietas unggul yang bisa dipanen serempak, produksi timggi, mudah perawatan, berumur genjah (56-57 hari sudah bisa dipanen), dan lebih tahan hama thrips dan kutu kebul. Permintaan benih sebar Vima, meskipun varetas baru luar biasa.

”Setelah petani melihat sendiri hasilnya, mereka baru percaya dan memborong benihnya”, tegasnya saat dikonfirmasi via telepon.

Anthoni, beserta tim agronomis dan petani kolaborator meninjau kondisi pertanaman Vima calon benih di Grobogan Jawa Tengah. Budidaya dilakukan pada MT ke-3, atau setelah panen padi MT ke-2.

Lebih lanjut Anthony menjelaskan bahwa selama ini petani di wilayahnya secara turun temurun memang sudah terbiasa budidaya kacang hijau pada MT ke-3. Teknik budidaya yang dilakukan masih tradisional, yaitu menyebar benih kacang hijau sesat setelah panen padi selesai. Tanpa pemupukan, tanpa penyemprotan pestisida, selanjutnya dibiarkan saja hingga panen. Benih yang digunakan biasanya membeli di pasar (akhir akhir ini dari mini market), atau menyisihkan panen tahun yang lalu untuk digunakan sebagai benih. Hal tersebut berakibat keseragaman varietas maupun hasil panennya tidak maksimal, rata-rata hasil panen 1-1,3 ton per hektare. Tergerak kondisi tersebut, CV Semi mengajukan permohonan ke Pemerintah, dalam hal ini Balitbangtan selaku pemilik varetas, untuk melisensi penangkaran benih Vima1, Vima 2, dan Vima 3. Hal tersebut dilakukan agar hasil panen petani bisa meningkat karena menggunakan varetas unggul baru.  Keyakinan Anthony semakin bertambah saat salah satu petani kolaboratornya menanam varetas tersebut dengan sumber benih dari Balitkabi Malang. Vima 1 memperoleh panen 1,7 ton/ha, Vima 2 mendapat 2,4 ton per hektare sedangkan Vima 3 panennya 2,1 ton per hektare.
    
Dukungan pemerintah, berupa sosialisasi masiv keunggulan Vima, serta penyuluhan teknik budidaya diharapkan agar masyarakat semakin mengetahui dan menggunakan varetas tersebut. Dengan harga rp 13 ribu per kilogram dan mudah pemeliharaannya, akan sangat membantu petani untuk meningkatkan taraf kesejahtearaannya. Di akhir pernyataannya, direktur CV Semi menegaskan bersedia menampung semua hasil panen Vima petani di Grobogan dan daerah sekitarnya.

Sumber: AWA/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID