logo rilis
Kabupaten Parimo Tingkatkan Produktivitas Padi dengan Jarwo Transplanter
Kontributor
Kurniati
08 Juni 2018, 13:36 WIB
Kabupaten Parimo Tingkatkan Produktivitas Padi dengan Jarwo Transplanter
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Saat ini produktivitas rata-rata padi di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah baru mencapai sekitar 5,3 ton per hektare, atau berada di rata-rata nasional.

"Sebagai sentra produksi beras di Provinsi Sulteng, Parimo terus meningkatkan produksi gabah, di antaranya melalui peningkatan produktivitas," kata Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura dan Perkebunan Parimo, Nelson Metubun SP di Parigi, Jumat (8/6/2018). 

Nelson mengatakan, sebanyak 80 persen petani di Parimo masih menggunakan cara tanam benih langsung, dengan seeder dan hambur benih langsung dengan blower, sisanya menggunakan cara tanam pindah.

"Cara tanam menggunakan jarwo transplanter diyakini meningkatkan produktivitas secara signifikan sehingga berpotensi besar meningkatkan produksi padi," kata Nelson.. 

Hal ini diamini oleh Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Sausu, Made Suartana.

Ia mengatakan, petani Sausu mulai melirik jarwo transplanter, karena petani melihat suatu teknologi yang bisa meningkatkan produksi padi, maka mereka dengan sendirinya akan meniru.

"Tidak perlu disuruh-suruh lagi," tegas Made. 

Kepala UPTD Kecamatan Torue, Wayan Muliarsa SP juga mengatakan hal yang sama.

"Dulu saya diketawain petani saat memperkenalkan jarwo transplanter, kini mereka ngejar-ngejar saya minta jarwo transplanter," ujar Muliarsa sembari ketawa.

Mereka sekarang yakin hasilnya pasti meningkat setelah saya melakukan pengujian yang hasilnya membuktikan bahwa jarwo transplanter meningkatkan hasil GKG dari 6 menjadi 7 ton per hektare atau hasil meningkat sekitar 17 persen, tambah Muliarsa.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Mekartani Kecamatan Torue, Puja, mengatakan hasil beras meningkat 5 kuintal per hektare atau gabah 1 ton per hektare dengan jarwo transplanter.

"Uang dari peningkatan hasil ini sekitar Rp4,5 juta per hektare, cukup untuk menutupi biaya olah tanah dan tanam," kata Puja yang memiliki sawah seluas 3 hektare ini.

Saat ini, petani belajar sendiri untuk mengoperasionalkan jarwo transplanter yang merupakan bantuan Kementan. Petani bisa menggunakannya gratis dan hanya mengeluarkan uang bensin dan pemeliharaan. 

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan sekaligus penanggungjawab Upsus Pajala Kabupaten Parimo, Dedi Nursyamsi mengatakan potensi untuk meningkatkan produksi padi di Parimo sangat besar.

Peningkatan produktivitas padi dengan jarwo transplanter bisa mencapai 15 hingga 20 persen.

"Bila semua petani menggunakan jarwo transplanter maka produksi padi Parimo akanmeningkat sekitar 15 persen," kata Dedi.

Ditambahkannya, Parimo juga bisa meningkatkan produksi padi melalui pengembangan areal tanam baru (PATB) ke lahan kering.

Ada sekitar 500 ribu hektare lahan kering yang bisa ditanami padi ladang.

"Lahan tersebut meliputi tegalan, ladang, perkebunan, padang rumput dan lain-lain," kata Dedi. 

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Parimo, Nurhidayah, mengatakan tahun ini Parimo melaksanakan kegiatan PATB untuk komoditas jagung dan kedelai.

"Kami masih menunggu kiriman benih jagung dan kedelai dari propinsi karena petani sudah siap tanam," tambahnya.

Sumber: Yoppy Yogaswara/BBSDLP


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)