logo rilis

Jurnalis Pertama Perempuan Menuju Pahlawan Nasional
Kontributor
Yayat R Cipasang
09 April 2018, 16:55 WIB
Jurnalis Pertama Perempuan Menuju Pahlawan Nasional
Panitia Pengusul Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional menemui Wakil Ketua DPR Fadli Zon. FOTO: Humas DPR

PANITIA Pengusul Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional menemui Wakil Ketua DPR Fadli Zon di ruang kerjanya Lantai 3 Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (9/4/2018). Rohana Kudus adalah tokoh wanita dari Sumatera Barat yang menerbitkan surat kabar perempuan Soenting Melajoe pada 1912.

Siapa Rohana Kudus alias Siti Roehana ini? Bila selama ini masyarakat mengenal Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita dari Jawa atau Dewi Sartika dari Jawa Barat, Tanah Minang pun memiliki tokoh penggerak emansipasi wanita yang sekaligus sebagai jurnalis pertama perempuan di Indonesia. Ya, namaya Rohana Kudus.

Perempuan kelahiran Koto Gadang, Kabupaten Agam, 20 Desember 1884 ternyata masih bertalian dengan sejumlah elite nasional. Rohana dikenal sebagai saudara tiri Perdana Menteri Sutan Sjahrir, sepupu H. Agus Salim dan bibi penyair Chairil Anwar.

Seperti disitat dari republika.co.id, karier jurnalistik Rohana Kudus dimulai dari Surat Kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia. Dan, koran ini dianggap sebagai surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Rohana dikenal sebagai jurnalis andal pada zamannya yang meliput dan menulis berita di lapangan.

Namun, Rohana Kudus tak bertahan lama di media tersebut lantaran Poetri Hindia bangkrut dan kemudian pindah ke Oestosan Melajoe yang terbit sejak 1911. Kariernya moncer di media yang didirikan Datoek Soetan Maharadja sehingga Rohana Kudus pun ketika memiliki ide menerbitkan Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912, Soetan Maharadja pun mengamininya.

Selain sebagai jurnalis, Rohana Kudus juga mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang pada 1911. Sekolah ini mendidik keahlian anak-anak perempuan dalam bidang menulis, membaca, berhitung, urusan rumah tangga, agama dan akhlak, kepandaian tangan, menjahit, menggunting dan menyulam. 

Dunia pendidikan dan profesinya sebagai jurnalis tak pernah terpisahkan dari perjuangan Rohana Kudus. Termasuk ketika harus merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Seperti dikutip dari wikipedia, di perantauan Rohana Kudus selain mengajar juga memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. 

Saat kembali ke Kota Padang, Rohana Kudus kemudian berkarier sebagai jurnalis surat kabar Cahaya Sumatra. Rohana Kudus yang meninggal pada usia 88 tahun pada 17 Agustus 1972 dikenal sebagai Perintis Pers Indonesia dan pada 6 November 2007 pemerintah menganugerahinya Bintang Jasa Utama.

Kini, Rohana Kudus selangkah lagi menuju Pahlawan Nasional.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)