logo rilis

Jual Beras, Petani Ciampea Bogor Untung Banyak 
Kontributor
Kurnia Syahdan
23 Mei 2018, 12:47 WIB
Jual Beras, Petani Ciampea Bogor Untung Banyak 
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Beras merupakan bahan makanan pokok utama penduduk Indonesia.  

Peran teknologi sangat penting, terutama penggunaan varietas unggul baru padi, agar produktivitas tinggi sehingga dapat mendukung ketersediaan stok beras. 
Salah satu varietas unggul baru Balitbangtan yang mulai dikembangkan di Kabupaten Bogor adalah Inpari 40 Agritan.

Salah satu permasalahan peningkatan pendapatan petani, adalah harga gabah yang cenderung tertekan karena posisi tawar petani yang rendah. 

Menjual gabah, lebih-lebih masih di lapang seringkali terpaksa dilakukan karena berbagai kendala seperti kesulitan menjemur, cuaca tak ramah, kebutuhan uang mendesak dan lain sebagainya.

Upaya menangani pascapanen hingga menggiling menghasilkan beras bila dapat dilakukan akan sangat menguntungkan petani. 

Usai panen padi inpari 40 selama kurang lebih lima hari pada bulan Mei 2018 di Kampung Cibuntu Alih Odah, Desa Cicadas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, petani memproses dan menggiling sendiri gabahnya sampai menghasilkan beras.  

Kini petani mendulang untung karena berhasil menjual sebanyak 1.625 kilogram beras dengan harga Rp10.000 per kilogramnya.

Banyak masyarakat yang sangat tertarik dan membeli beras varietas unggul Inpari 40 yang baru diperkenalkan sebagai tindak lanjut kerjasama Dinas Pertanian Kabupaten Bogor dengan Balitbangtan yang diwakili BB Biogen. 

Beras yang diproses dari hasil pertanaman Inpari 40 tersebut ludes terjual.

“Inpari 40 saat ini mulai disukai oleh masyarakat karena memiliki rasa yang enak dan warna beras yang putih," kata Sadjili, salah seorang petani di Bogor.

Karena penerimaan masyarakat tersebut, sebagian benih inpari 40 akan ditanam kembali pada musim tanam (MT) II 2018. 

Sambil tersenyum lebar, Sadjili optimis hasil panen MT II 2018 lebih tinggi dan bisa dinikmati harga yang bagus dengan cara pasca panen dan menggiling sendiri.

Menurut peneliti dari Balitbangtan, Kementerian Pertanian, Mastur, pendekatan terpadu kegiatan budidaya dan pasca panen tersebut merupakan cara efektif meningkatkan pendapatan petani.  

"Dengan cara ini upaya peningkatan kesejahteraan petani bukan lagi sekedar cita-cita sulit dicapai namun bisa menjadi kenyataan," katanya.

Sumber: Nurul Ulfah, Mastur


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)