Home » Inspirasi » Wawancara

Andi Matalatta: Jokowi Tak Berharap Dukungan Golkar pada Pilpres 2019

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

Anggota Dewan Pembina Partai Golkar, Mohammad Andi Mattalatta. ILUSTRASI: Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Anggota Dewan Pembina Partai Golkar, Andi Matalatta mengatakan, Presiden Jokowi tidak terlalu berharap dukungan Partai Golkar pada Pilpres 2019. Yang diharapkan Jokowi, menurutnya, adalah dukungan Golkar pasca Pilpres.

Berikut wawancara rilis.id dengan Andi Mattalatta di Jakarta, Senin (11/9/2017).

Bagaimana menurut Anda Golkar sekarang ini?

Tak ada masalah menurut dia (DPP, red). Persoalan ada kasus hukum Novanto, ketika ditanya tak ada masalah katanya.

Kenapa dia ajukan praperadilan?

Itu strategi dia barangkali. Siapapun yang jadi tersangka akan cari jalan keluar untuk meringankan bebannya.

Status tersangka Novanto dikaitkan dengan masalah internal Golkar?

Wajar saja ada pemikiran seperti itu. Dengan posisi tersangka seperti ini, otomatis konsolidasi Partai terganggu, tapi DPP Golkar merasa tidak terganggu. Menurut saya pasti ada masalah. Kalau ditanya pengurus Golkar, dibilang solid. Tapi masalahnya, Golkar ini bukan ditentukan pengurus doang, oleh rakyat juga. Ini yang tidak solid. Kalau masyarakat yang tidak mau kisruh akan pilih tempat lain.

Termasuk kader Golkar sendiri?

Banyak yang pindah, daripada ribut ke dalam, bertengkar dengan pengurus dan merusak pertemanan, pindah ke tempat lain. Toh banyak pilihan. Dulu hanya PPP, Golkar dan PDIP. 

Seberapa besar merosotnya Golkar dengan status tersangka Novanto?

Itu tanggung jawab pengurus. Pasti ada karena rakyat memilih karena figur.

Harusnya Novanto seperti apa? Mundur misalnya?

Masalahnya pleno Golkar sudah memutuskan bahwa tidak ada Munaslub, tidak ada masalah. Kalau orang per orang berkoar, tak ada gunanya. Cari persoalan, dipecat seperti Ahmad Doli Kurnia. Doli berpikiran untuk partai sementara pengurus berpikir untuk kepentingan pengurus sendiri.

Bisa disebut pengurus otoriter?

Tidak juga karena hampir semua pengurus setuju dan susahnya penentu kebijakan partai adalah pengurus, bukan kader. Bukan suara rakyat, padahal yang menentukan suara rakyat. Kalau ditanya rakyat, banyak rakyat yang tidak memilih Golkar 

Apa dampak kalau Novanto menang di praperadilan?

Kalau dia menang, syukur dan konsolidasi berjalan.

Kalau kalah?

Tergantung pengurus, apakah mau mempertahankan posisi Novanto sebagai tersangka atau melihat kepentingan partai.

Fadh yang sudah terpidana belum dipecat, Markus Nari yang sudah tersangka juga belum dipecat?

Tergantung pengurus, berkawan atau tidak. Wajar dong kalau dilakukan perombakan, posisi hilang. Ini kepentingan pengurus saja. Yang nyatakan tak masalah dengan status Novanto adalah pengurus.

Dampak ke Jokowi bila Novanto menang di Praperadilan?

Pencalonan Jokowi sebagai presiden oleh Golkar tak masalah, masalahnya sesudah pemilu. Golkar dapat suara siginifikan atau tidak. Kalau suaranya menurun gak ada gunanya bagi Jokowi. Kan maunya Golkar mencalonkan sekaligus mengawal kepemimpinan Jokowi untuk 2019-2024. Yang jadi soal, kalau suara Golkar turun, Nggak ada artinya. 

Sama kalau anda naik perahu, kalau kaptennya tersandera, penumpang pasti khawatir, kalau ditanya kru, pasti jawab aman dan kalau diganti, kru juga diganti.

Penulis Zulhefi Sikumbang
Editor Sukarjito

Tags:

GolkarNovantoPilpres 2019

loading...