logo rilis
Jokowi Pastikan Garam Impor Tak Masuk Pasar, Lalu ke Mana?
Kontributor
Intan Nirmala Sari
04 April 2018, 14:28 WIB
Jokowi Pastikan Garam Impor Tak Masuk Pasar, Lalu ke Mana?
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan, impor garam dilakukan karena industri Tanah Air membutuhkan garam dengan kualitas yang berbeda dari yang dihasilkan oleh petani garam. Hal ini terkait keputusan pemerintah untuk mengimpor 3,7 juta ton garam industri di awal tahun.

“Kita harus realistis ya, bahwa industri kita itu membutuhkan garam dengan kualitas yang berbeda dari yang dihasilkan petani garam, itu berbeda,” kata Jokowi usai meresmikan pembukaan Indonesia Industrial Summit Tahun 2018 dan Peluncuran Making Indonesia 4.0 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Rabu (4/4/2018).

Presiden mengingatkan, garam industri yang diimpor dengan garam yang dihasilkan petani, memiliki pangsa pasar berbeda, segmentasinya berbeda, dan juga kualitasnya berbeda. Kalau kita tidak impor garam industri, bakal berakibat berhentinya industri.

“Meskipun penggunaannya mungkin hanya 2,0 persen tapi itu menjadi kunci, gitu. Kayak mobil, kemudian bannya enggak ada, meskipun hanya ban tapi enggak jadi mobil kan,” ungkap Presiden.

Ini terjadi, lanjut Presiden, karena  garam industri ini dibutuhkan untuk kaca, kosmetik, makanan-minuman, farmasi, dan banyak industri yang membutuhkan ini. Sementara itu, Presiden meminta agar dibedakan antara yang garam industri dan garam rakyat. “Yang saya tahu, saya pantau terus, harga garam yang di Madura, di NTT (Nusa Tenggara Timur), di Aceh sekarang ini masih pada posisi harga yang baik,” ucap Presiden.

Namun demikian, Presiden telah memerintahkan kepada aparat untuk menjaga agar garam industri impor tidak tembus ke pasar.

Sebelumnya dalam kesempatan terpisah Menko Perekonomian Darmin Nasution mengemukakan, impor garam masih diperlukan sebab Indonesia masih belum bisa memproduksi garam industri dengan kadar Natrium Chlorida (NaCl) dengan kadar 97,4 persen.

Menurut Darmin, garam industri yang diimpor ini tidak akan digelontorkan secara bertahap, namun akan dikucurkan per bulan tergantung kemampuan penyerapan industri.

“Kami akhirnya memutuskan impor garam industri sebesar 3,7 juta ton per bulan, tapi kan tiak sekaligus juga, lihat dulu paling kemampuan industri berapa sebulannya,” ujar Darmin ditemui di kantornya, Jumat (19/1) lalu.


500
komentar (0)