Home » Fokus

Jokowi Menggerus Sentimen Anti-Umat Islam

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

FOTO: Biro Pers Setpres. ILUSTRASI: Akbar Pathur

JOKO Widodo muncul sebagai presiden berlatar abangan. Sebagaimana pendahulunya, dia membangun aliansi strategis dengan kaum santri. Soekarno dekat dengan NU. Soeharto di awal dekade 90’an dekat dengan ICMI. Megawati dengan Kiai Hasyim Muzadi dan membangun Baitul Muslimin. SBY membesarkan jaringan Majlis Zikir SBY Nurussalam. Kini Jokowi memperkuat kedekatan dengan Kiai-Kiai NU melalui Majlis Dzikir Hubbul Wathon.

Sepanjang Aksi Bela Islam yang digelar berjilid-jilid pada tahun lalu, Jokowi dianggap melindungi Ahok. Artinya secara konfrontatif, istana dihadapkan dengan ‘umat Islam’ yang menjadi massa aksi. Walaupun NU secara resmi tidak mendukung aksi, namun terbukti banyak warga NU dari berbagai daerah bergabung ikut aksi. Apalagi setelah membludaknya peserta Aksi Bela Islam 3, banyak pihak menganggap lingkaran dalam istana kurang ramah dengan umat Islam dan terutama kaum ulama.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, Kiai Ma’ruf Amin dicecar dengan pertanyaan tajam saat menjadi saksi dalam sidang penodaan agama dengan terdakwa Ahok. Di berbagai media sosial, Kiai Ma’ruf dituduh oleh pendukung Ahok, sebagai kroni SBY yang mendalangi Aksi Bela Islam. Posisi Kiai Ma’ruf sebagai ketua MUI dikaitkan secara konspiratif dengan kepentingan SBY untuk mengalahkan Ahok di Pilkada Jakarta. Yaitu melalui fatwa MUI yang menyatakan Ahok telah menodai ajaran Islam. 

Ahok akhirnya minta maaf secara terbuka. Jokowi mengirim Menko Maritim Luhut Pandjaitan bertemu Kiai Ma’ruf. Banyak warga NU yang marah karena Rais ‘Aam diperlakukan seperti itu oleh (pendukung) Ahok. Sepertinya, sejak itu jugalah Ahok berakhir di mata Istana. Dia dianggap lebih banyak memancing keributan politik dan cenderung merugikan Jokowi.

Setelah kesempatan itu, entah mengapa, Jokowi semakin dekat dengan Kiai Ma’ruf. Tiga kesempatan untuk menjelaskan ini. Pertama, Kiai Ma’ruf seakan menjadi juru bicara Jokowi saat Presiden menyatakan akan menganulir Permendikbud soal Full Day School. Kedua, Jokowi hadir langsung saat Kiai Ma’ruf diangkat sebagai guru besar ekonomi Islam di UIN Malang. Ketiga, Kiai Ma’ruf diandalkan untuk menjadi tokoh sentral dalam beberapa acara besar konsolidasi ulama dan umat Islam untuk pemerintahan Jokowi. Pertama, Kongres Ekonomi Umat (7/4/2017). Kedua, Halaqoh Nasional Alim Ulama (13/7/2017).

Jokowi belakangan seperti sadar bahwa dirinya punya potensi untuk “di-Ahok-kan”, sebagus apapun prestasi kerja, namun gagal kembali terpilih karena buruknya pengelolaan komunikasi politik. Dan problem terakhir ini memiliki celah besar yang berbahaya. Polemik usulan dana haji untuk infrastruktur menunjukkan celah itu menganga lebar. Jokowi berniat baik, kerangka UU ada, BPKH sudah berjalan, namun usul itu tetap memancing polemik di mata umat Islam. Penentangan itu terasa lebih bersifat psikologis, kesalnya umat Islam kepada Jokowi, ketimbang betul-betul menolak pemakaian dana haji.

Dengan pembacaan seperti itu, hingga 2019, Jokowi butuh jembatan untuk menggerus sentimen dan jarak dengan umat Islam. Dan Kiai Ma’ruf adalah tokoh yang penting dan tepat. Acara zikir kebangsaan yang digelar Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Istana Merdeka Selasa (1/8/2017) lalu, menjadi langkah penting untuk merekatkan kemesraan itu.

Simak fokus lainnya tentang MAJELIS DZIKIR HUBBUL WATHON:

LAPORAN 1: Ketika Istana Berzikir
LAPORAN 2: Kemesraan Jokowi dan Ma'ruf Amin
LAPORAN 3: Jokowi Menggerus Sentimen Anti-Umat Islam
LAPORAN 4: Majelis Zikir untuk Konsolidasi Politik?
LAPORAN 5: Belajar dari SBY

Penulis Armidis Fahmi
Editor Danial Iskandar

Tags:

fokusmajelis zikirhubbul wathonpresiden jokowi pilpres 2019