logo rilis
Jika Perpusnas RI Paling Tinggi, Inilah Perpustakaan Pertama di Dunia
Kontributor
Ning Triasih
07 Mei 2018, 18:27 WIB
Jika Perpusnas RI Paling Tinggi, Inilah Perpustakaan Pertama di Dunia
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Sudahkah Anda mendatangi perpustakaan hari ini? Pasalnya. hari ini merupakan peringatan ulang tahun ke-38 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Senin (7/5/2018).

Dalam rangka peringatan HUT Perpusnas ke-38 yang berlangsung 7-14 Mei ini, Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) RI mulai hari ini menggelar stand Perpustakaan Kemensetneg RI di Perpusnas Expo. Gelaran ini berlangsung 7-13 Mei 2018.

Berbicara soal Perpusnas RI, sebagai warga Indonesia Anda patut berbangga. Pasalnya, perpustakaan yang ada di Gambir, Jakarta Pusat ini murupakan perpustakaan tertinggi di dunia. Lalu, tahukah Anda seperti apa perpustakaan pertama di dunia?

Melansir dari berbagai sumber, jawabannya adalah Bibliotheca Alexandria Egypt atau Perpustakaan Iskandariyah Mesir. Ya, inilah perpustakaan pertama dan terbesar di dunia. Letaknya ada di Alexandria, Mesir, tepatnya di sekitar Selatan Mesir.

Perpustakaan Iskandariyah Mesir dibangun pada tahun 323 Sebelum Masehi (SM) oleh Raja Ptolemey (Ptolemaeus) Soter (322-285 SM), raja pertama dinasti Diadoch. 

Perpustakaan ini menjadi sangat besar ketika ditangani oleh pengganti raja Raja Ptolemey, Ptolemey Philadelphus (285-247SM) dan Ptolemey Eurgetes (247-221 SM).

Kala itu, perpustakaan ini dibangun sebagai tempat untuk mengumpulkan dan memelihara semua karya kesusastraan Yunani. Begitu pentingnya perpustakaan di mesir saat itu ditandai dengan diketahuinya beberapa orang yang bekerja di sana seperti: Zenodotus, Erastothenes, Aristophanes, Aristarchus, Callimachus dan Apollonius sekitar abad dua dan tiga SM.

 

 

Pada masa itu, Bibliotheca Alexandria Egypt menjadi pusat ilmu pengetahuan. Bahkan, Raja Mesir sempat mengeluarkan harta kerajaannya hanya untuk untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000 berbentuk ringkasan tak berjilid.

Namun, ada peristiwa yang kurang mengenakkan menimpa perpustakaan tertua di dunia tersebut. Ketika Perpustakaan Alexandria tengah berada di puncak, setiap kapal dan penjelajah yang singgah ke Mesir akan digeledah.

Kemudian, Mesir menggeledah buku dan naskah dan menyalinnya. Salinannya itu diberikan ke sang pemilik, sementara naskah asli disita oleh pihak perpustkaan.

Lebih parahnya lagi, ketika Athena meminjamkan naskah klasik Yunani kepada Mesir lantaran disebut akan disalin, nyatanya Mesir justru menyita semua naskah yang ada dan hanya memulangkan salinannya pada Athena.

 

 

Ketika bangsa Romawi menguasai Mesir pada tahun 48 SM, di bawah kepemimpinan Julius Cesar, bangsa Romawi membakar 400.000 buku hingga menjadi abu. Dunia ilmu saat itu kian tenggelam.

Hingga akhirnya, sang Kaisar, Julius Caesar, meminta maaf dan menggantikan 200.000 buku sebagai gantinya kepada Ratu Mesir Cleoptara. Tapi itu tidak mengembalikan perpustakaan menjadi seperti semula.

Kemunculan kembali perpustakaan yang kaya akan nilai sejarah itu berawal pada 1990-an. Kala itu, UNESCO dengan pemerintahan Mesir kembali membangun perpustakaan tersebut. Setelah terbengkalai hampir 20 abad akhirnya Bibliotheca Alexandria Egypt atau Perpustakaan Iskandariyah Mesir kembali berdiri kokoh dan megah.

 


500
komentar (0)