logo rilis
Jepang dan Singapura Dibayangi Resesi Ekonomi Akibat COVID-19
Kontributor
Elvi R
17 Februari 2020, 22:30 WIB
Jepang dan Singapura Dibayangi Resesi Ekonomi Akibat COVID-19
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Jepang dan Singapura tampaknya berada di ambang resesi saat epidemi virus corona mengganggu pariwisata dan rantai pasok seluruh dunia. Dan Cina memberlakukan pembatasan keras untuk menghentikan meluasnya penyebaran virus.

Jumlah kasus baru virus corona di Provinsi Hubei, pusat epidemi, meningkat pada Senin (17/2/2020) dengan lebih dari 1.933 kasus. Bahkan, tercatat 100 kematian dilaporkan sejak Minggu (16/2/2020).

Di seluruh daratan China, otoritas mengatakan jumlahnya meningkat dari 2.048 menjadi 70.548 kasus, dengan 1.770 kematian.

Hampir 90 persen kasus baru terjadi di Wuhan. Sebuah kota berpenduduk 11 juta orang di mana virus itu diyakini berasal dari pasar yang memperdagangkan satwa liar secara ilegal akhir tahun lalu.

Virus yang diyakini memiliki masa inkubasi 14 hari, telah mengakibatkan ribuan orang dikarantina di seluruh dunia.

Di Kamboja, pihak berwenang segera melacak ratusan penumpang yang turun dari kapal pesiar Holland America Line, Westerdam, setelah seorang perempuan Amerika meninggalkan kapal dan dites positif terjangkit virus corona di Malaysia.

Lebih dari 100 orang telah meninggalkan negara itu, sementara sekitar 300 orang dilaporkan masih di Kamboja.

"Saya percaya ada 300 orang Amerika di hotel ini ditambah beberapa ratus dari negara lain. Kita semua akan diuji terkait virus corona hari ini dan besok oleh Kementerian Kesehatan Kamboja," Holley Rauen, penumpang kapal tersebut yang berprofesi perawat kesehatan masyarakat dan bidan dari Fort Myers, Florida.

"Kami tidak tahu kapan kita sampai di rumah ..." ia melanjutkan.

Warga Amerika lain dievakuasi dari kapal pesiar Diamond Princess yang tertambat di Yokohama, Jepang, setelah dikarantina selama dua minggu.

Sebanyak 70 kasus baru virus corona dikonfirmasi di atas kapal itu.

Dari 3.700 penumpang dan awak yang diisolasi di kapal tersebut sejak 3 Februari lalu, sekitar 355 orang di dalamnya telah dinyatakan positif mengidap penyakit itu. Ini merupakan kelompok kasus terbesar di luar Cina.

Mereka yang menderita penyakit ini telah dibawa ke rumah sakit di Jepang dan tidak ada seorang pun pasien dari kapal yang meninggal. Sekitar setengah dari tamu di dalam kapal berasal dari Jepang.

Australia akan mengevakuasi lebih dari 200 warganya dari kapal, Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan pada Senin.

Kekhawatiran tentang penyebaran penyakit meningkatkan kemungkinan bahwa penyelenggara dapat memangkas jumlah peserta di Tokyo Marathon bulan depan.

Di luar Cina, lebih dari 500 infeksi telah dikonfirmasi, sebagian besar pada orang yang melakukan perjalanan dari kota-kota Cina, dengan lima kematian yakni di Jepang, Filipina, Hong Kong, Taiwan, dan Prancis.

Sumber: Routers




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID