logo rilis

Jenderal Kardus, Sandiaga dan AHY
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
09 Agustus 2018, 08:30 WIB
Jenderal Kardus, Sandiaga dan AHY
Pertemuan Ketum Demokrat SBY dan Ketum Gerindra Prabowo didampingi AHY. FOTO: Istimewa.

DUA nama itulah yang kini tersisa. Lucunya, nama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mendadak muncul begitu saja sebagai kandidat cawapres Prabowo. Padahal, sebelumnya tidak ada kabar-kabar mengarah ke sana.

Semua mulai terurai ketika politisi Demokrat, Andi Arief, membeberkan informasi yang ia jamin fakta dan akurasi kebenerannya.

"Hari ini kami dapat informasi ada politik transaksional yang berada dalam ketidaktahuan kami," kata Andi Arief, kemarin.

Ternyata, di sanalah cikal bakal munculnya nama Sandiaga Uno. Wakilnya Anies Baswedan tersebut dikatakan siap membiayai kebutuhan logistik Prabowo. Bahkan, kabarnya telah menyetor uang Rp500 miliar ke PAN dan PKS.

"Masing-masing Rp 500 miliar," kata Andi kepada wartawan seperti dilansir detik.com.

Dengan "disumpal" uang tersebut, diharapkan PAN serta PKS bisa menerima Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo. Tak perlu lagi ngotot untuk memajukan kader mereka. Begitu niatnya, sayang Demokrat mengendusnya duluan.

Mengapa bisa sampai ketahuan? Mungkin opsi Prabowo-Sandiaga mendadak makin kuat. Padahal, semua tebak-tebakan, serta "matematika politik" sudah menyasar ke nama AHY, sang putra mahkota dari Partai Demokrat.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memang digadang-gadang akan menjadi cawapres Prabowo. Nama anak sulung Presiden ke-6 ini memang lebih klop daripada figur-figur yang dimunculkan PAN atau PKS.

Mulai dari pertemuan rutin SBY dan Prabowo, dengan drama saling kunjung. Filosofi-filosofi berpakaian, pembentukkan tim teknis untuk pemenangan pilpres, hingga kompaknya Demokrat dan Gerindra belakangan ini.

Kemesraan ini seolah membuai perasaan SBY. Merasa yakin bahwa Pilpres 2019 nanti, partainya akan kembali bertarung, bukan cuma jadi penonton seperti di 2014 lalu.

Padahal, Prabowo diam-diam juga tak mau melupakan kawan lama. Yakni PKS dan PAN. Di mana, kedua partai ini sama-sama melancarkan strategi-straginya supaya kandidat yang diusung bisa terpilih sebagai cawapres.

Semisal PKS, yang bersikeras mengajukan hasil itjimak ulama, di mana ada nama Ustaz Abdul Somad dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri. Kemudian, PAN yang tarik ulur dukungan alih-alih menunggu hasil rakernas partai.

Prabowo semakin hati-hati. Ia mulai cari cara berpikir jernih. Karena di satu sisi, ia disebut-sebut sudah kehabisan "amunisi", sehingga perlu merapat "gudang peluru". Demokrat lah yang masuk radarnya.

Kalau kata Andi Arief, Partai Demokrat adalah pihak yang diajak untuk berkoalisi, ia tekankan itu. Pun, untuk nama cawapresnya, justru Prabowo lah yang menawarkan AHY, pihak SBY justru minta agar ini dihitung secara matang.

"Kita tidak tawarkan siapa-siapa jadi cawapres, walau Pak Prabowo tawarkan AHY jadi wakil. Kami pun menyarankan agar dihitung matang-matang," ujarnya.

Permintaan pihak Demokrat ternyata memang dipikirkan "matang-matang" oleh Prabowo. Sehingga, muncul lah manuver yang digosip-gosipkan kemarin.

Tapi, cerpen baper (terbawa perasaan) ini tampaknya bakal cepat selesai, karena masa pendaftaran calon tingga tunggu hitungan jam. Pilihanya tinggal dua, Prabowo-AHY atau Prabowo-Sandiaga.

Siapa yang pegang kendali? Bisa jadi, Prabowo cuma jadi penumpang gara-gara "kardus".


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)