logo rilis
Jemaah Ahmadiyah Diserang, Setara Institute Soroti Kinerja Kepolisian
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
20 Mei 2018, 17:02 WIB
Jemaah Ahmadiyah Diserang, Setara Institute Soroti Kinerja Kepolisian
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, mengatakan, pihaknya menyesalkan kegagalan aparat kepolisian dalam mengantisipasi dan mencegah terjadinya kekerasan terhadap Jemaah Ahmadiyah di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurutnya, Kapolri Tito Karnavian harus memberikan perhatian besar terhadap kinerja aparat keamanan dalam mencegah kekerasan atas nama agama. Fokus dalam penanganan terorisme jaringan nasional dan transnasional, kata dia, tidak boleh mengurangi perhatian aparat terhadap teror kekerasan mengatasnamakan keyakinan mayoritas.

"Justru pada aksi-aksi sejenis inilah ekstensi kerja pemberantasan terorisme harus dilakukan, meskipun dengan kerangka hukum yang berbeda," kata Hendardi melalui siaran persnya kepada rilis.id, Minggu (20/5/2018).

Pihaknya, imbuh Hendardi, mengutuk aksi kekerasan teror dan persekusi yang dilakukan seklompok warga yang intoleran tersebut. Menurutnya, tindakan itu nyata-nyata melawan hukum, melanggar amanat konstitusi, bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, dan merusak kebhinekaan. 

"Setara menuntut pemerintah untuk menjamin keamanan jiwa raga dan hak milik seluruh warga Ahmadiyah, khususnya di NTB. Jemaah Ahmadiyah memiliki seluruh hak dasar sebagai warga negara yang dijamin oleh UUD 1945, hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku," ujarnya.

Setara, lanjut Hendardi, juga mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk mengambil tindakan segera dalam melakukan pemulihan atas hak-hak korban yang terlanggar dan tercerabut akibat aksi kekerasan tersebut. Aparat keamanan dan pemerintah setempat, lanjutnya, juga harus memastikan kondusivitas sosial dengan mencegah eskalasi ketegangan yang disebabkan oleh perbedaan agama atau keyakinan.

"Pembiaran kekerasan seperti yang terjadi atas warga Ahmadiyah di Lombok Timur akan semakin membuka ruang bagi politisasi agama, intoleransi, dan ujaran kebencian untuk kepentingan politik elektoral jelang Pilkada Serentak, Pemilu, dan Pilpres mendatang," paparnya.

Sebelumnya, melalui pesan singkat yang diterima rilis.id, dalam penyerangan ini telah terjadi aksi anarkis berupa perusakan rumah, harta atau benda serta penggusuran penduduk setempat yang beraliran Ahmadiyah.

"Untuk ini kami Mohon kiranya aparat penegak hukum dapat bertindak tegas untuk melindungi mereka." tulis dalam pesan tersebut.

Sekelompok oknum yang diduga melakukan aksi ini dinilai sama saja dengan upaya teror. Karena, telah merusak fasilitas, dan mempersekusi, dan mengganggu warga dalam menjalanankan keyakinannya.


500
komentar (0)