logo rilis
Jelang Pilkada, DPR Khawatir Maraknya Peredaran Uang Palsu
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
22 April 2018, 13:32 WIB
Jelang Pilkada, DPR Khawatir Maraknya Peredaran Uang Palsu
Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo, khawatir dengan maraknya peredaran uang palsu menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dan juga lebaran. Untuk itu, Bamsoet, sapaan akrabnya, meminta pemerintah untuk mengawasi dengan ketat adanya peredaran uang palsu tersebut.

"Karena biasanya peredaran uang palsu marak jelang pilkada dan lebaran," kata Bambang dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (22/4/2018).

Bamsoet mengatakan, Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia dan juga Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal), harus aktif untuk mengawasi peredaran uang yang ada. Hal itu untuk mencegah adanya uang palsu yang beredar di masyarakat.

Tak hanya pemerintah, lanjutnya, masyarakat juga harus turut berperan aktif dengan mewaspadai uang yang diterima dari pihak lain. Dia meminta masyarakat untuk membeli ataupun menukar uang hanya di bank pemerintah maupun swasta dan tempat penukaran uang.

"Masyarakat juga harus selalu waspada dengan cara dilihat, diraba, dan diterawang guna meminimalisasi terjadinya penipuan uang palsu," ujarnya.

Bambang menegaskan, Polri harus mengusut tuntas sindikat uang palsu karena harus ada hukuman berat bagi pihak-pihak yang terlibat demi menimbulkan efek jera.

Sebelumnya, Bareskrim Mabes Polri menetapkan AP sebagai tersangka peredaran uang palsu yang diduga berperan sebagai pemodal. Menurut Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Kombes Pol Daniel Tahi Monang Silitonga, berdasarkan hasil penyidikan sementara, AP mengaku mengedarkan uang palsu karena terlilit utang.

"AP berharap mendapatkan uang dengan cepat untuk melunasi seluruh utangnya," katanya.

Selain AP, Polri juga menangkap tiga tersangka lainnya yaitu AK (56), AD (62), dan AM (35), masing-masing memiliki peran yang berbeda, mulai dari mendesain hingga mencetak. Pelaku membuat uang palsu pecahan Rp100 ribu yang dijual dengan perbandingan harga satu banding tiga atau satu lembar uang asli ditukar dengan tiga lembar uang palsu.

Sumber: Antara


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)