Home » Fokus

Jejak Sukses Diplomasi Panda

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

ILUSTRASI: Hafidz Faza

PEMINJAMAN atau pemberian panda yang biasa disebut Diplomasi Panda merupakan praktik yang lazim dalam politik luar negeri China. Sejak dilakukan pada dekade 1950-an, setidaknya sudah 17 negara yang mendapatkan peminjaman pengembangbiakan (breeding loan) panda raksasa dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

Termasuk pasangan panda bernama Cai Tao dan Hu Chun yang dipinjamkan China kepada Indonesia. Kedua panda berusia 7 tahun itu akan tinggal di Taman Safari Indonesia, Bogor, selama 10 tahun mendatang. Keduanya akan hidup di lingkungan hutan bambu seluas 11 hektare di kawasan wisata pegunungan tersebut.

Diplomasi Panda menjadi andalan China untuk mendekatkan hubungan dengan negara-negara sahabat. Praktik ini sudah dimulai sejak era kepemimpinan Mao Zedong. Pemimpin besar China ini kerap mengirimkan hewan raksasa menggemaskan ini kepada negara sekutu mereka, semisal Korea Utara dan Uni Soviet. 

Dalam perkembangannya, Diplomasi Panda juga dilakukan terhadap negara-negara besar lain. Dari tahun 1958 hingga 1982, China tercatat memberikan 23 ekor panda kepada sembilan negara. 

Salah satu yang cukup populer adalah pemberian panda kepada Presiden Amerika Serikat Richard Nixon, setelah dirinya berkunjung ke China pada tahun 1972. Saat itu, sepasang panda bernama Hsing-Hsing dan Ling-Ling ikut menjadi bingkisan yang dibawa pulang Nixon dari China.

Saat tiba di AS, ibu negara Pat Nixon menghadiahkan pasangan panda ini kepada kebun binatang di Washington D.C. Lebih dari 20 ribu pengunjung berdesakan untuk melihat panda pada hari itu. Panda menjadi binatang populer di AS. Euforia warga AS tersebut ikut berperan dalam mengakhiri ketegangan diplomatik antara AS dan China.

Popularitas panda di AS bahkan membuat Perdana Menteri Inggris Edward Heath meminta pinjaman panda saat berkunjung ke China tahun 1974. Sepasang panda bernama Chia-Chia dan Ching-Ching akhirnya tiba di Kebun Binatang London beberapa minggu kemudian.

Namun tradisi ini bergeser sejak tahun 1984. China mengubah aturan peminjaman panda tersebut. Panda dari China hanya akan dipinjamkan dalam jangka waktu selama sepuluh tahun. China juga akan meminta retribusi tahunan kepada negara yang dipinjami. Termasuk aturan yang menyebutkan, anak-anak panda yang lahir di negara mana pun akan diakui sebagai sebagai milik China.

Panda terlanjur menjadi simbol diplomasi China dalam pergaulan global. Salahsatunya dengan Jepang, negara yang memiliki masa lalu kelam dengan China. Pada tahun 2008, Pemerintah China meminjamkan sepasang panda kepada Jepang, karena “panda raksasa sangat populer di mata masyarakat Jepang. Mereka adalah simbol dari persahabatan China dan Jepang,” kata Hu Jintao, Presiden China saat itu. 

Kini aturan peminjaman panda juga berbeda-beda, tergantung keinginan China. Namun aturan dasarnya sama, yaitu hubungan diplomatik yang baik antara negara peminjam dengan Pemerintah China. Termasuk Cai Tao dan Hu Chun, pasangan panda yang baru tiba di Indonesia, Kamis (28/9/2017). Akankah kehadirannya di negeri Khatulistiwa akan membuat hubungan Indonesia dan China semakin mesra. Kita masih harus menunggu.

Penulis Danial Iskandar

Tags:

fokusdiplomasi pandachinapolitik global

loading...