logo rilis

Jateng Inginkan Gubernur yang Menjunjung Falsafah Jawa
Kontributor
Yayat R Cipasang
28 Mei 2018, 13:06 WIB
Jateng Inginkan Gubernur yang Menjunjung Falsafah Jawa
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) Arifin Nur Cahyono mengatakan, sosok gubernur yang diinginkan masyarakat Jawa Tengah setidaknya harus memiliki pemahaman dan mengamalkan falsafah Jawa yang terkenal. Seorang pemimpin itu harus 'swadana maharjeng tursita' yang artinya seorang pemimpin haruslah intelektual, berilmu, jujur, dan pandai menjaga nama serta mampu  menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian. 

"Nama Ganjar Pranowo rusak akibat diduga terlibat kasus korupsi e-KTP yang disebut menerima fee oleh Setya Novanto," kata Arifin dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Senin (28/5/2018).

Falsafah kedua, tambahnya, 'bahni bahna amurbeng jurit'. Artinya seorang pemimpin harus selalu berada di depan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran. 

"Masyarakat Jateng mayoritas lebih memilih Sudirman Said karena ia sosok pemimpin yang berani menjadi teladan untuk membongkar kasus papa minta saham Freeport walau akhirnya dicopot oleh Presiden Joko Widodo," urainya.

Falsafah ketiga yaitu 'rukti setya garba rukmi'. Falsafah ini menggarisbawahi bahwa seorang pemimpin harus memiliki tekad bulat menghimpun segala daya dan potensi guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa. 

"Kepemimpinan Ganjar selama menjadi Gubernur tidak dirasakan oleh masyarakat mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat Jateng," ujarnya.

Hasil survei LKPI terhadap 2.220 orang warga Jateng juga menunjukkan sebanyak 70,6 persen mengatakan Sudirman Said adalah tokoh yang bersih dari korupsi. 

"Hampir 79,6 persen responden juga percaya pengakuan Setya Novanto yang mengatakan Ganjar Pranowo menerima uang fee proyek e-KTP," beber Arifin.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)