logo rilis

Jangan Sudahi Ahok
kontributor kontributor
Ilham Mendrofa
21 April 2017, 08:36 WIB
Pedagang jagung, saat ini aktif membenih kata di rilis.id
Jangan Sudahi Ahok

Ahok hampir dipastikan kalah. Tren elektabilitas yang diharap akan naik dalam seminggu terakhir, ternyata tidak tercapai. Walaupun tim sukses Ahok sudah menggunakan berbagai cara untuk menggenjot suara. Termasuk diduga dengan cara yang paling cemar: sembako.

Ahok hampir dipastikan kalah. Tapi haruskah dia ditinggalkan begitu saja? Sebagai tokoh yang menyandang minoritas ganda: Cina dan Kristen, dia telah berhasil mendapat dukungan yang besar dari warga Jakarta. Butuh usaha habis-habisan untuk menumbangkannya. Tentu ada sesuatu yang membuatnya mampu bertahan.

Baca Juga

Ahok telah menoreh sejarah. Dengan berbagai kekurangannya, dia telah memulai. Ahok menjadi model pengelolaan pemerintahan yang transparan. Di tengah menipisnya kepercayaan warga kepada pemerintah karena korupsi dan penyimpangan, Ahok membuka pintu itu lebar-lebar dengan gayanya yang kadang terasa menjengkelkan.

Tidak terbayangkan sebelumnya, warga Jakarta bisa menyaksikan bagaimana keuangan pemerintah dibahas dan bagaimana kontrak dilakukan. Termasuk juga mengamati para pengusaha mendatangi kantor gubernur dengan berbagai kepentingannya. Tanpa transaksi di kamar gelap dan tanpa bisik-bisik.

Kepongahan yang ditampilkan Ahok jangan-jangan justru telah memuaskan hati kita. Karena dengan tajam dia telah melawan upaya penggerogotan terhadap APBD. Banyak orang yang menjulukinya pemarah dan kasar. Tapi justru kepada si pemarah ini, setiap orang bisa beradu argumen dan berdebat dalam posisi yang sejajar. Hal yang tidak biasa bagi pejabat kita, yang lumrahnya dibatasi protokoler dan ajudan.

Ahok telah mulai mengubah Jakarta. Banyak masalah di kota besar ini yang dulu membuat orang hampir putus asa; sampah, macet, kali busuk, banjir, dan penyamun di kelurahan, dengan cepat dibereskan olehnya. Kini warga Jakarta seakan bisa lebih tenang di rumahnya, karena percaya bahwa di luar sana ada orang-orang pemerintah yang sedang bekerja.

Ahok punya jasa besar dalam membongkar watak kekuasaan yang bermuka dua. Dia kerap menyebut pemerintah sebagai administrator keadilan sosial. Dia memberi teladan bagaimana konsep open governance diamalkan. Barang langka yang sejak reformasi sering diperbincangkan dan dirindukan tapi belum terlihat wujudnya.

Memang tidak semua kebijakan Ahok harus kebal dari kritik. Misalnya soal penggusuran, ada yang alpa di situ. Tapi kemauannya untuk berdebat secara terbuka dengan data dan hitung-hitungan, lagi-lagi adalah perkara yang jarang dilakukan seorang pejabat publik.

Ahok hampir dipastikan kalah. Tapi sepertinya dia terlalu berharga untuk kita lupakan begitu saja. Apalagi di tengah Pilkada ketika aspirasi dan sentimen keagamaan lebih memikat bagi banyak pihak. Nama Ahok sebagai panggilan moral harus tetap disuarakan. Bahwa seseorang dari latar belakang apapun, baik Cina, Arab, Islam, Kristen, atau siapapun; memiliki hak yang setara sebagai warga negara. Sungguh cerita Ahok ini adalah cerita sejati Pancasila kita.

Akhirnya, Ahok adalah pelajaran bagi kita semua. Termasuk bagi gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Kontestasi demokrasi damai di Jakarta ini modal besar meneguhkan Indonesia Raya kita.


#Ilham Mendrofa
#Kolom Kacamata
#Ahok
#Basuki Tjahaja Purnama
#Pilkada Jakarta
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID