logo rilis
Jangan Salah Langkah Lagi, Perang Dagang AS-Cina Harus Menguntungkan Indonesia
Kontributor
Intan Nirmala Sari
06 April 2018, 09:09 WIB
Jangan Salah Langkah Lagi, Perang Dagang AS-Cina Harus Menguntungkan Indonesia
Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal. FOTO: Core Indonesia

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan situasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina, harus bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia. 

Ia menjelaskan, sebelum perang dagang AS-Cina kian memanas, pangsa pasar perdagangan Indonesia ke AS terus mengalami penurunan. Ini ditunjukkan dari ekspor komoditas Tanah Air ke Negeri Paman Sam tersebut, seperti produk perikanan, manufaktur, pakaian, alas kaki dan tekstil.

"Sementara itu, untuk masuk pangsa pasar AS enggak gampang karena persaingannya. Di antaranya, persaingan dengan Bangladesh, Vietnam dan India. Jadi pangsa pasar kita diambil negara lain," ungkap Faisal kepada rilis.id di Jakarta, Jumat (6/4/2018).

Dengan memanasnya perang dagang antara AS dan Cina, Faisal menilai, Tanah Air seharusnya memiliki peluang untuk mengambil keuntungan saat perang dagang. Artinya, saat potensi barang yang bisa masuk (di ekspor) ke Cina lebih sedikit, industri Indonesia bisa masuk untuk mengambil alih pangsa pasar Negeri Tirai Bambu.

"Tapi sayangnya, kesempatan-kesempatan seperti itu selama ini enggak kita manfaatin dengan baik," katanya.

Ia menjelaskan, pada Januari 2018 peningkatan impor ke Cina mencapai 30 persen, karena perayaan Tahun Baru Imlek. Momen tersebut, harusnya bisa dimanfaatkan Tanah Air untuk menggenjot ekspor sebanyak-banyak ke negara tersebut.

"Semestinya itu bisa masuk, krna kita slah satu yang memiliki kedekatan hubungan dagang dengan mereka (Cina). Tapi faktanya, ekspor manufaktur kita ke Cina tidak signifikan saat itu, artinya enggak kita manfaatin dengan baik," jelasnya.

Faisal mengatakan, pemerintah tidak memanfaatkkan tingkat penetrasi yang ada saat itu. Artinya, dengan potensi ekspor yang sangat luas, industri Tanah Air belum memanfaatkannya secara optimal.

"Untuk itu, perlu suatu reformasi di sektor manufaktur dan ini butuh efek serius. Ini butuh dukungan antar sektor, jadi butuh upaya bersama dorong ekspor manufaktur, sehingga yang diperlukan bukan hanya insentif," ucapnya.

Core Indonesia menilai, jika industri manufaktur Tanah Air ingin unggul, perlu ada dukungan dari pemerintah dan pihak lainnya. Di antaranya menciptakan kebijakan perdagangan yang mendukung industri, bea keluar diturunkan untuk menggenjot kinerja ekspor, serta insentifinsentif lainnya.
 


500
komentar (0)