logo rilis

James Tangkudung, Setelah Asian Games Baru Bicara Olimpiade
Kontributor

03 April 2018, 17:13 WIB
James Tangkudung, Setelah Asian Games Baru Bicara Olimpiade
Profesor James Tangkudung sangat peduli dengan prestasi atlet menjelang Asian Games 2018. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

INDONESIA sebagai tuan rumah Asian Games 2018 memiliki peluang untuk mengkapitalisasi tiga kesuksesan sekaligus. Sukses prestasi, sukses penyeleggaraan dan sukses secara ekonomi masyarakat.

Sebagai ilmuwan olahraga, Prof. Dr. dr. James Tangkudung menyambut perhelatan pesta olahraga tingkat Asia tersebut lebih fokus pada peningkatan prestasi atlet untuk mencapai target 10 besar atau setidaknya bisa merebut posisi Thailand di posisi enam dalam Asian Games sebelumnya.

Mantan tim dokter PSSI ini menyayangkan sejumlah pengurus besar cabang olahraga yang tidak terbuka soal program dan target emas mereka. Padahal dana yang dikucurkan pemerintah untuk seluruh cabang olahraga itu mencapai puluhan triliun. Kalau program dan target emas tidak terbuka kepada masyarakat bagaimana publik bisa memantau. Sementara bila para atlet itu berprestasi dan meraih emas maka akan melahirkan kegembiaraan, kebanggaan dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Mantan Deputi Menpora ini menawarkan kepada sejumlah cabang olahraga untuk meningkatkan prestasi olahraga dengan berbagai sumber daya yang ada termasuk sport science. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) misalnya memiliki program latihan dan uji tanding yang dapat meningkatkan prestasi para atlet yang bisa dimonitor dari dalam arena training center atau di luar dengan menyuguhkan data kekuatan dan kelemahan lawan. 

Di luar teknis, guru besar yang fasih berbahasa Jerman ini juga menginisiasi untuk mendirikan sebuah lembaga yang menyediakan bonus untuk para atlet yang mendapatkan emas pada Asian Games 2018. Seperti apa teknis idenya itu dilaksanakan berikut petikan wawancara selengkapnya redaktur rilis.id Yayat R Cipasang dengan James Tangkudung di sela-sela mengajar program doktoral Psikometri Olahraga di kampus Pascasarjana UNJ Rawamangun, Jakarta Timur, baru-baru ini.

Apa relevensinya program doktoral olahraga UNJ dengan prestasi olahraga, khususnya menjelang Asian Games 2018?

Kita sebagai ilmuwan olahraga setidaknya dapat memberikan kontribusi nyata dari segi keilmuan untuk meningkatkan prestasi olahraga khususnya yang di depan mata kita, ajang Asian Games 2018. Tentu kita tidak mencampuri soal pelatihan atau juga soal manajemen tetapi kita lebih pada cara-cara untuk mencapai target emas sehingga bisa menjadi 10 besar tingkat Asia. Itu kewajiban kita.

Banyak yang bertanya kepada saya 10 besar itu maksudnya apa? Ya, sepuluh besar itu urutan kita itu bisa dari satu sampai 10. Tapi tentu kita juga harus realistis. Tapi kenapa Thailand bisa menjadi urutan keenam di Asia? Kenapa kita nggak bisa seperti Thailand apalagi kita ini menjadi tuan rumah. Kita bakar motivasi ini supaya Merah Putih ini bisa mengalahkan Thailand.

Apakah semudah itu?

Ya, kita punya advantage, kita punya keunggulan dibanding Thailand. Keuntungan yang paling utama tentu sebagai tuan rumah. Kapan lagi kita bisa menjadi yang terbaik di Asia. Belum tentu 60 tahun lagi Asian Games akan balik lagi ke Indonesia. Ini saatnya kita berprestasi. Apakah kita harus menunggu 60 tahun lagi untuk bisa menjadi 10 besar di Asia?

Kita, atlet dan pelatih harus berbuat sekarang. Kapan lagi. Demi Merah Putih. Karena efeknya kalau kita juara atau masuk 10 besar dapat mempersatukan Indonesia lebih mantap dan supaya kita ini yang berbeda suku dan budaya bisa kompak. Tentu, yang paling penting masyarakat senang.

Apakah prestasi juga terkait dengan penyelenggaraan?
 
Sukses itu kan ada tiga. Sukses penyeleggaraan, sukses prestasi da sukses perekomian rakyat. Bila tiga sukses ini tercapai baru kita bicara ajang selanjutnya, Olimpiade.  Kita bisa kok menyelengggarakan Olimpiade. Gampang, tinggal kerja sama antara tiga negara serumpun yaitu Indonesia, Singapura dan Malaysia. Tapi kita tidak bisa bicara Olimpiade kalau prestasi Asian Games saja tak punya. Kita harus punya sesuatu (prestasi) baru kita ngomong Olimpiade.

Korea Selatan, Korea Utara dan Jepang saja bisa menggelar ajang olahraga dunia bersama. Kenapa negara kita dengan Singapura dan juga Malaysia nggak bisa?

Apakah bachmark kita hanya Thailand?

Thailand mampu bertengger di urutan keenam. Masa kita yang berpenduduk lebih dari 250 juta tak memiliki atlet-atlet hebat. Apa sih kelebihan Thailand? 

Namun yang perlu diwaspadai juga kehebatan atlet-atlet Vietnam. Sebuah negara yang belum lama menyelesaikan konflik internalnya. Tapi dalam sejumlah ajang mereka lebih unggul dari Indonesia.

Padahal dalam urusan pencak silat misalnya mereka ini banyak berguru dan belajar dari Indonesia. Ketika saya masih Asdep Menpora, Vietnam itu meminta pelatih Indonesia untuk melatih pencak silat di Vietnam. Bahkan mereka juga sempat berlatih di Padepokan Pencak Silat di TMII. Justru sekarang, atlet mereka lebih berprestasi dari Inndonesia.

Apa yang memotivasi mereka sehingga lebih berprestasi?

Orang Vietnam itu punya moto, Amerika saja bisa dikalahkan apalagi Indonesia. Hahahaha....

Tapi saya percaya dari silat kita masih bisa mendapat dua sampai tiga medali emas. Kita desain saja aturannya. Kita punya hak sebagai tuan rumah untuk mengubahnya misalnya soal variasi serangan. Misalnya kita atur kembali yang bisa menguntungkan kita mulai dari cara memukul atau cara menendang.

Dari hasil pengamatan Anda sejauh mana kesiapan para atlet menghadapi Asian Games 2018?

Sekarang ini para atlet sudah masuk ke dalam prakompetisi. Bayak atlet yang sudah dikirim ke luar negeri utuk melakukan uji tanding. Dan proses itu masuk ke dalam monitorig. 

Prakompetisi atlet-atlet yang memiliki peluang besar untuk mendapatkan emas secepatya dikirim ke luar negeri untuk melakukan pertandingan atau uji tanding. Dan memang beberapa atlet sudah dikirim untuk training center di luar negeri.

Selama ini para atlet itu bertanding dengan gigi dua. Nah, untuk berprestasi harus ditingkatkan sehinga mendekati level empat atau lima. Kita melakukan monitoring mulai dari intensitas waktunya hingga sistem energinya. Semuanya itu terkontrol dan terprogram. Ada statistiknya.

Dengan demikian sekali lagi kita bisa mengalahkan Thailand bila monitoring di dalam atau di luar arena saling mendukung. Monitoring cukup di dalam negeri nggak harus ke luar negeri. Yang penting kita ini memiliki intelijen sport dan itu sebagian bisa diakses lewat interet.

Paling tidak untuk Asia Teggara, harus kita juaranya. Bisa juga kita menjadi kekuatan di Asia Timur. Karena nggak mungin kita mengalahkan China yang memiliki tradisi juara pamuncak disusul Korea Selatan dan juga Jepang.

Kita sebagai  ilmuwan olahraga juga memiliki kepentingan untuk memantau program yang terukur dan sudah dipraktikkan di beberapa cabang olahraga Program yang kami tawarkan sangat terukur dan sudah berpengalaman dalam menangani sejumlah atlet.

Kalau mereka (pelatih) minta program ke kita ya silakan kita akan kasih. Program kita terukur dan saya sudah berpengalaman dalam menangani sejumlah atlet. Kapan atlet itu intensitasnya dinaikkan dan kapan waktunya istirahat. Semua itu ada aturan dan metodenya.

Misalnya saya pernah menangani pebulutangkis Susi Susanti dengan metode asam laktat. Ini karena permintaan Pak Siregar (Ketua PB PBSI). Om Siregar bilang, you kontrol Susi Susanti dan tes ke Frankfrut, tempat saya sekolah mengambil jurusan sport science. Jadi kita itu punya data bukan asal ngomong.

Karea itu kami dari Pascasarjana UNJ siap mendukung program Asian Games untuk mencapai target emas. Kongkretnya kami siap memantau ke dalam dan memantau dari luar agar Indonesia mendapat banyak medali emas sehingga bisa mengalahkan Thailand.

Selain faktor tuan rumah dan latihan apakah bonus juga berpengaruh?

Sangat berpengaruh. Ini terkait dengan kebutuhan dasar manusia pada umumnya. Karena itu saya usulkan pemerintah harus meningkatkan bonus bagi peraih medali emas. Hanya untuk peraih emas karena ini yang dapat mempengaruhi langsung posisi suatu negara.

Bila sebelumnya bonus untuk peraih emas di SEA Games sebesar Rp1 miliar saya mengusulkan peraih emas diganjar Rp2  miliar per orang untuk Asian Games. Saya pikir pemerintah mampu menyisakan dana untuk peraih emas dari ratusan triliun dana untuk Asian Games.

Jangan lupa juga, masyarakat pun dapat dilibatkan dalam menyediaan bonus untuk para atlet peraih emas ini. Dengan demikian, publik dapar berpartisipasi langsung dalam mendorong atlet negaranya berprestasi.

Caranya?

Saya mengusulkan silakan ide saya ini siapa yang nangkap, lebih tepat untuk Pundi Bonus Atlet Emas Asian Games 2018. Silakan media mana saja yang dapat melakukannya. Semacam Pundi Amal atau Peduli Kasih di televisi. Uang yang masuk dari masyarakat secara langsung ditayangkan dalam teks berjalan di layar televisi.

Yang penting pengelolaannya terbuka dan transparan. Jadi uang yang terkumpul berarapa pun nantinya hanya untuk atlet dan pelatih yang meraih emas. Uang itu tidak bisa digunakan untuk yang lain. Saya siap  untuk menginisiasi ini mengeluarkan uang dari saku saya sendiri Rp10 juta.

Silakan masyarakat juga menyumbang berapapun. Karena masyarakat juga saya kira rela menyumbang apalagi nanti hasil sumbangannya itu diberikan kepada peraih emas dan atlet-atlet kita yang berprestasi. Coba, kapan lagi masyarakat ikut berpartisipasi karena belum tentu 60 tahun kemudian Indonesia menjadi tuan rumah kembali.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID