logo rilis
Jaga Pasokan, Genjot Perluasan Tanam Bawang Merah saat Musim Hujan
Kontributor

17 September 2018, 22:36 WIB
Jaga Pasokan, Genjot Perluasan Tanam Bawang Merah saat Musim Hujan
Areal tanaman bawang merah di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Minggu (16/9/2018). FOTO: Dok. Kementan

RILIS.ID, Sumenep— Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian mendorong perluasan tanaman di daerah pada musim hujan (off seasons). Tujuannya, menjaga pasokan bawang merah.

Bahkan, kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, bawang merah di Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, lebih intens ditanam saat musim hujan. Puncak tanam pada Januari-Februari dan mencapai 600 hektare.

Dengan begitu, panen raya di Sumenep terjadi pada Maret-April. Saat bersamaan, sentra utama seperti Brebes baru mulai tanam. Alhasil, petani setempat memperoleh harga bagus kala panen.

"Kalau daerah yang memiliki karakteristik off seasons seperti Kecamatan Rubaru ini diperluas, saya optimis, pasokan dan harga bawang merah nasional akan semakin stabil," ujarnya, Minggu (16/9/2018).

Di sisi lain, Anton, sapaannya, mendorong petani bawang merah Sumenep menerapkan budi daya ramah lingkungan dan berkelanjutan. "Saya harap, petani mulai menerapkan teknologi likat kuning dan feromon exi secara optimal untuk mengurangi biaya penggunaan pestisida," imbaunya.

Sementara itu, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Sumenep, Habe Hadjat, menyatakan, wilayah Kecamatan Rubaru menjadi sentra bawang merah sejak dulu. Komoditas bumbu dapur itu, ditanam di Desa Mandala, Desa Basoka, dan Desa Karangnangka.

"Kontur lahan di sini berlereng, sehingga air tidak menggenang saat musim hujan. Intensitas panas matahari juga optimal, sehingga menjadikan kawasan tersebut sangat cocok ditanami bawang merah", terangnya.

Petani setempat umumnya menggunakan varietas Rubaru. Pemilihan nama diambil dari kawasan tersebut. Varietas ini tahan hujan dan tak mudah terserang Fusarium. Produktivitasnya bisa mencapai 8-10 ton per hektare.

“Tak heran, kalau ada yang menyebut Sumenep sebagai penyelamat bawang merah nasional,” kata Habe.

Petani bawang merah Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, Ilyasin, menambahkan, banyak keuntungan yang didapatkannya saat membudidayakan bawang merah pada musim hujan sejak 18 tahun silam. Tak ada kendala berarti saat mengembangkannya.

"Pendapatan dari hasil tanam bawang merah Rubaru minimal empat kali lipat dari modal yang kami keluarkan. Misalnya dengan modal Rp10 juta, kami bisa dapat hasil Rp40-Rp 50 juta setiap panen," ungkapnya.

Saat musim kemarau, petani juga masih menanamnya. Masalah pengairan, dia dan petani lain memakai tandon air dari terpal dengan rangka anyaman bambu.

"Kami menyebutnya sebagai lumbang. Kami fokus untuk persiapan benih tanam raya Januari-Februari nanti,” tuntas Ilyasin.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID