logo rilis
Isu Perang Dagang Mereda, Mendag: Engga Bisa Instan
Kontributor
Intan Nirmala Sari
28 Maret 2018, 23:24 WIB
Isu Perang Dagang Mereda, Mendag: Engga Bisa Instan
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. FOTO: RILIS.ID/Intan Nirmala Sari

RILIS.ID, Bogor— Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, meredanya isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina, belum bisa dianggap clear. Menurutnya, Tanah Air tetap harus mengantisipasi risiko dan kemungkinan yang terjadi ke depan.

"Kita enggak bisa (lega), enggak bisa diduga (kebijakan AS dan Cina), itu engga bisa begitu instan (berubah), nggak mungkin," jelas Enggar kepada rilis.id di Cileungsi, Bogor, kemarin (27/3/2018). 

Enggar menegaskan, sikap Presiden AS Donald Trump tidak bisa ditebak dengan mudah, sehingga ketidakpastian di perdagangan global masih tetap tinggi. 

"Hari ini saja sudah ada perubahan (mereda), beberapa hari nanti sudah berubah lagi. Detik, jam, menit, hari itu berubah. Untuk itu, kita akan antisipasi, kita ikuti terus karena ini berubah terus," ungkapnya. 

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, di tengah maraknya isu perang dagang, pemerintah akan terus mendorong investasi untuk tujuan ekspor. Harapannya, agara kemudahan competitivnes dari industri Tanah Air bisa ditingkatkan. 

"Kita mau menjadi tempat di mana kesempatan kerja bisa diciptakan melalui investasi. Oleh karena itu, perlu untuk membuat berbagai policy dan kita bandingkan dengan negara-negara lain selama ini di ASEAN," ujarnya.

Pemerintah juga akan mempelajari lebih jauh kebijakan-kebijakan negara mitra dagang Indonesia, untuk kemudian bisa membuat kebijakan yang sama atau bahkan lebih baik dari mitra dagang. 

"Bisa kita lakukan dari sisi insentif, kemudahan proses dan perizinan dipermudah," tandasnya.

Sebagaimana informasi, isu perang dagang AS dan Cina mulai mereda seiring terbukanya peluang negosiasi di kedua negara. Isu perang dagang sendiri, muncul saat Trump mengumumkan akan mengenakan tarif impor terhadap cina sebanyak 25 persen. Tak tinggal diam, Cina membalas kecaman tersebut dengan mengajukan 128 daftar barang yang berpotensi dikenakan tarif balik. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)