Islam dan Yahudi - RILIS.ID
Islam dan Yahudi
Mohammad Nasih
Kamis | 21/06/2018 15.03 WIB
Islam dan Yahudi
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, – ANTARA Islam dan Yahudi, dan tentu saja Kristen, memiliki kesamaan fundamental, yakni sama-sama lahir dari Ibrahim. Karena itu, ketiga agama tersebut sesungguhnya memiliki konsepsi teologis yang sama. Di dalam kitab Taurat bahkan sudah diinformasikan bahwa akan lahir rasul yang terakhir. 

Karena itu, tidak sedikit penganut Yahudi yang mempersiapkan diri untuk mengikuti rasul yang terakhir itu. Bahkan tidak sedikit penganut Yahudi Yatsrib (nama Madinah sebelum hijrah Nabi Muhammad) mengancam orang-orang yang sedang bersengketa dengan mereka, bahwa jika utusan yang dijanjikan itu datang, mereka akan membalas perlakuan musuh mereka itu. 

Hanya saja, mereka meyakini bahwa rasul yang terakhir itu berasal dari garis keturunan Ya’qub bin Ishaq. Namun, ternyata rasul yang terakhir itu berasal dari keturunan Isma’il. Sebagian besar penganut Yahudi sudah terlanjur menjadikan itu sebagai keyakinan dan menganggap itu sebagai kemuliaan bagi kaum Yahudi. Karena itulah, mereka tidak mau menerima kenyataan bahwa yang diangkat sebagai rasul terakhir itu adalah Muhammad Saw. 

Karena itulah, orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran itu disebut kâfir, artinya menutupi (kebenaran). Sebab, mereka menutupi atau menyembunyikan kebenaran tentang ciri-ciri yang sangat jelas bahwa Muhammad adalah utusan terakhir yang dijanjikan itu.

Di dalam Alquran, terdapat cukup banyak ayat yang berbicara tentang Yahudi. Mereka disebut dengan beberapa sebutan, yaitu: al-Yahud, al-ladzîna hâdû (orang-orang yang menganut agama Yahudi),  Bani Israel (anak-anak keturunan Israel, gelar Nabi Ya’qub), dan ahlu al-kitab. Dalam lebih konteks, Alquran mengecam perilaku mereka karena mestinya mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang lebih mudah menerima agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Sebab, mereka telah memiliki informasi-informasi dari generasi-generasi sebelumnya tentang tanda-tanda kebenaran yang seharusnya mereka ikuti. 

Agama Islam sesungguhnya juga membenarkan agama Yahudi. Bahkan dalam waktu yang cukup lama umat Islam shalat menghadapkan wajah ke Baitul Maqdis, kota yang sangat disucikan oleh orang-orang Yahudi. Namun, dalam praktik kehidupan di Madinah, kelompok-kelompok Yahudi melakukan pengkhianatan, sehingga mereka kemudian diusir dari Madinah. 

Yang perlu ditekankan adalah pengusiran mereka terjadi bukan karena mereka memeluk agama yang berbeda dengan Nabi Muhammad, melainkan karena mereka melakukan tindakan makar dengan cara berkomplot dengan pihak-pihak lain yang ingin menghancurkan kekuatan Islam. Padahal Nabi Muhammad telah membuat kesepakatan dengan seluruh entitas di Madinah, termasuk dengan seluruh kaum Yahudi, agar mereka semua bahu-membahu untuk mempertahankan Madinah dari kelompok mana pun yang hendak meronrong dan menghancurkan. 

Kecaman keras sebagian umat Islam dari berbagai penjuru dunia saat ini terhadap tindakan Israel di Palestina, bisa dipahami disebabkan karena rasa persamaan agama dengan sebagian besar penduduk Palestina yang menjadi korban. 
Sebab, di dalam doktrin Islam, seluruh umat Islam adalah bagai saudara kandung. Jika kehormatan salah satu saja di antara mereka dikoyak, maka mereka semua akan ikut merasakannya. 

Pun karena secara faktual Israel telah melakukan tindakan-tindakan yang tidak bisa ditoleransi oleh siapa pun yang menggunakan hati nurani dan memiliki pandangan yang benar tentang nilai-nilai kemanusiaan. Terhadap mereka, seharusnya negara-negara di seluruh dunia yang ingin hidup damai dan menghapuskan penjajahan, harus bersikap tegas, bahkan sampai dengan memutuskan hubungan diplomatik. 

Jadi, tanpa ada embel-embel sentimen perbedaan antara Islam dan Yahudi, bangsa Israel yang melakukan tindakan semena-mena di Palestina itu memang perlu distempel sebagai penjahat kemanusiaan. Wallahu a’lam bi al-shawab.  


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID