logo rilis

Ironis! Pelajar Indonesia Lebih Pilih Buka Praktik Kedokteran di Singapura
Kontributor

14 April 2018, 07:17 WIB
Ironis! Pelajar Indonesia Lebih Pilih Buka Praktik Kedokteran di Singapura
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. FOTO: RILIS.ID/Tio Pirnando

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyayangkan, banyaknya pelajar Indonesia yang lulus pendidikan kedokteran di China membuka praktik di Singapura.

"Ada beberapa dokter yang lulus CTM (ilmu kedokteran tradisional China) membuka praktik di Singapura. Anehnya, pasiennya orang Indonesia juga. Ini masalah serius," katanya di Beijing, Jumat (13/4/2018) malam.

Ia mengungkapkan, bahwa hal itu terjadi lantaran tidak ada kebijakan di Indonesia yang membolehkan mereka membuka praktik.

"KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) tidak mengakui CTM itu. Saya langsung tugaskan dirjen saya untuk studi banding CTM," katanya dalam pertemuan dengan para pelajar asal Indonesia di Kedutaan Besar RI di Beijing itu.

Menanggapi pertanyaan mahasiswa kedokteran asal Indonesia, mengenai rumitnya penyetaraan ijazah dan pengajuan izin praktik kedokteran, Nasir berjanji akan berkoordinasi dengan KKI dan IDI, selaku lembaga yang bertanggung jawab atas profesi kedokteran.

Meskipun demikian, menurut dia, para lulusan kedokteran dari perguruan tinggi di China harus mengikuti prosedur yang berlaku untuk menjaga kualitas dan profesionalisme dokter.

"Kaitannya dengan dokter, tidak hanya di luar negeri. Kalau di Indonesia, untuk menempuh pendidikan sarjana kedokteran paling cepat empat tahun. Setelah empat tahun mereka harus melakukan pendidikan klinik paling cepat dua tahun. Jadi sudah enam tahun," ujarnya.

Setelah enam tahun, lulusan sarjana kedokteran masih harus mengikuti ujian kompetensi mahasiswa pendidikan dokter. "Kalau dia tidak lulus, ya tidak boleh jadi dokter. Di Indonesia, ribuan yang tidak lulus pendidikan dokter ini. Mereka demo besar-besaran di Istana (Presiden, red.) dan DPR," ungkapnya.

Setelah lulus, mereka tidak langsung bisa praktik, melainkan harus pendidikan intensif selama satu tahun Selain itu, mereka masih harus mengikuti pendidikan dokter layanan primer untuk menangani pasien supaya tidak langsung mendapatkan pelayanan medis dari dokter spesialis.

"Pendidikan layanan primer ini dua tahun. Jadi totalnya untuk bisa praktik, seorang dokter harus melakukan pendidikan selama sembilan tahun," jelasnya.

Oleh sebab itu, lulusan kedokteran dari perguruan tinggi di luar negeri harus mengikuti proses pendidikan dan prosedur yang sama dengan para lulusan perguruan tinggi kedokteran di Indonesia.

"Mereka harus lulus pendidikan adaptasi selama satu tahun karena pernah terjadi lulusan kedokteran luar negeri ada yang tidak melalui klinik, lalu tiba-tiba ingin praktik di Indonesia. Dalam pendidikan adaptasi, ternyata ada lulusan kedokteran luar negeri yang tidak tahu sama sekali 18 bagian minimal yang ada di ilmu kedokteran," ujarnya.

Saat bertemu para mahasiswa Indonesia, Menristekdikti Mohamad Nasir dan rombongan didampingi Kuasa Usaha Ad-Interim KBRI Beijing Listyowati, Atase Pendidikan KBRI Beijing Priyanto Wibowo, dan Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Beijing Rukmini Setiati.

Nasir ke China untuk menghadiri pencanangan Tahun Inovasi China-ASEAN dan melakukan pertemuan bilateral denga Menteri Iptek China Wang Zhigang.
 

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)