Ironi Kekuasaan, Retorika tentang Kita - RILIS.ID
Ironi Kekuasaan, Retorika tentang Kita
RILIS.ID
Rabu | 01/11/2017 12.48 WIB
Ironi Kekuasaan, Retorika tentang Kita

POLITIK hari ini seakan hanya cerita tentang mereka. Orang-orang terpandang. Sekelompok orang yang mendapat kuasa untuk membuat rencana, dan melaksanakannya secara bijak: dalam hikmat kebijaksanaan.

Awalnya, orang-orang ini dipilih lewat proses politik. Mereka dipinjami kuasa yang sesungguhnya terbatas. Mereka tadinya adalah bagian dari kita. Mereka mengajukan lamaran melalui proses elektoral.

Setelah atribut didapat, relasi antarkita ini tak lagi sama. Logika bahwa kita meminjami mereka adalah logika formal. Mungkin juga rumusan ideal. Tapi, pemegang mandat yang dipinjamkan itu bisa merasa sebaliknya. Mereka bisa saja merasa seakan menjadi pemilik atas segenap kuasa yang ada. Boleh jadi mandat yang tadinya dipinjamkan dianggap serupa dengan sertifikat hak milik.

Politik lalu tak lagi bicara capaian kolektif. Tapi, ia menjadi cerita tentang mereka yang ingin memperpanjang kontrak, dan kalau dapat menjadi pemilik yang bisa diturunkan ke generasi berikutnya. Politik menjadi dagang sapi sekelompok orang itu-itu saja.

Retorika tentang kita berganti dengan ambisi yang banal. Ambisi yang menabrak etika, juga estetika. Ambisi yang membius nalar dan melucuti akal sehat. Nafsu atas pangkat dan kedudukan yang memabukkan.

Politik dalam jubah ambisi ini akan membuat demokrasi tak mungkin bekerja. Menjadi mogok dan kehilangan energi. Demokrasi menjadi terkunci dalam kamar-kamar transaksi. Tawar-menawar dalam setengah kamar. Hikmat kebijaksanaan hanya mantra sekadarnya di ruang terbuka.

Perselingkuhan politik dan ambisi yang banal ini adalah ironi reformasi. Keinginan mengganti formasi demokrasi artifisial ala Orde Baru dengan demokrasi yang lebih baik, demokrasi yang bekerja seakan terkunci oleh ambisi.

Paulo Freire, dalam Pendidikan Kaum Tertindas, menyebutkan ada dimensi manipulasi dalam relasi kuasa—yang antidialogis. Dalam batas tertentu, mungkin manipulasi agak mirip dengan pencitraan. Menanamkan cita rasa elite pada kesadaran rakyat.

Manipulasi ini, menurut Paulo Freire, bisa langsung atau melalui para pemimpin populis. Namun, yang terpenting dari manipulasi adalah membius kesadaran rakyat sehingga tak lagi berpikir jernih. Tujuan akhir dari semua ini tentu saja untuk mempertahankan dan melestarikan dominasi.

"Dengan cara manipulasi, elite penguasa berusaha membuat rakyat menyesuaikan diri dengan tujuan-tujuan mereka. Semakin rendah kesadaran politik rakyat (di desa atau di kota), semakin mudah mereka dimanipulasi oleh mereka yang tidak ingin kehilangan kekuasaannya."

Kehilangan kekuasaan, seperti yang disebut Paulo Freire, mungkin merupakan frasa yang kini menghantui sekelompok orang. Dalam ruang gelap kecemasan ini, ambisi bertemu manipulasi.

Bob Marley, dalam lirik lagu "Get Up, Stand Up", menyitir ungkapan terkenal dari Abraham Lincoln, "You can fool some people sometimes. But you can't fool all the people all the time."

Memang, kebohongan bukan tak berbatas. Politik akhirnya juga tak sekadar ambisi serta manipulasi. Dan, kekuasaan tanpa hikmat kebijaksanaan sesungguhnya hanya soal menghitung waktu.


Tags
#Ironi Kekuasaan
#Politik
#Kaum Tertindas
#Kolom
#Merdeka
#Dadang Rhs
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID