logo rilis
Irma Chaniago, Perjuangkan Imunisasi Kanker Serviks Jadi Program Nasional
Kontributor
Yayat R Cipasang
02 Januari 2018, 20:17 WIB
Irma Chaniago, Perjuangkan Imunisasi Kanker Serviks Jadi Program Nasional
ILUSTRASI: Hafiz

ANGGOTA Komisi IX dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (NasDem), Irma Suryani Chaniago, termasuk yang gusar dengan meningkatnya perempuan penderita kanker serviks (mulut rahim) di Indonesia. Tidak sedikit perempuan yang masih produktif harus meninggal karena penyakit yang yang disebabkan infeksi Human Papilloma Virus (HPV) ini.

"Kanker serviks membunuh perempuan usia 30 sampai 60 tahun. Data menyebutkan sekira 500 ribu perempuan di dunia menderita kanker serviks dan 270 ribu di antaranya meninggal setiap tahun," kata Irma dalam perbincangan dengan rilis.id, Selasa (2/1/2018).

Kanker serviks, kata Irma, sebenarnya dapat dicegah sedini mungkin bila para perempuan melakukan deteksi  lebih awal. Apalagi kini bidan-bidan juga sudah dapat melakukan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Cara ini dianggap sangat efektif dan juga biaya murah. Dengan melakukan pencegahan, banyak dana yang dihemat oleh masyarakat dan juga pemerintah.

Irma berpesan kepada para perempuan  untuk melakuan pemerisaan secara rutin. Jangan sampai ditunggu setelah sakit. Apalagi waktu tunggu untuk kemoterapi saat ini seorang pasien harus menunggu sampai enam bulan. Kalau lama begini pasien sudah meninggal duluan.

Penyebab lamanya waktu antre kemoterapi, kata Irma, karena peralatan yang sangat terbatas. "Sampai saat ini hanya di rumah sakit kota-kota besar yang memiliki fasilitas kemoterapi," ujarnya.

Pencegahan lainnya, kata Irma, dilakukan lewat imunisasi sejak usia 13 tahun sampai 40 tahun. Imunisasi dilakukan dua kali. Namun harganya masih mahal. Sekali imunisasi biayanya mencapai Rp 2,5 juta.

Sebenarnya, biaya imunisasi itu bisa ditekan cukup signifikan. Pemerintah harus bekerja sama dengan farmasi dalam negeri untuk membuat vaksin kanker serviks. Selama ini vaksin diimpor akibatnya harganya sangat mahal.

Beberapa kali dalam rapat kerja dengan menteri kesehatan, Irma selalu mengusulkan kepada Menkes untuk menjadikan imunisasi kanker serviks sebagai program nasional. Namun sampai saat ini usulan itu belum diirespons dengan langah nyata.

"Selah dihitung bila vaksin itu dibuat di dalam negeri biaya sekali imunisasi ditaksir hanya Rp350 ribu. Dana yang dibutuhkan mencapai Rp 800 miliar untuk satu tahun. Dana ini tidak sebanding dengan biaya yang dihemat bila para perempuan produktif Indonesia terbebas dari kanker serviks," ujarnya.

“Memang hasilnya tidak akan kelihatan dalam satu tahun. Tapi dampaknya baru kelihatan minimal setelah lima tahun,” tambah Irma, menekankan.

Irma sebelum jadi anggota DPR dikenal sebagai akktivis serikat buruh. Perempuan kelahiran Metro, Lampung 6 November  1966 ini meraup 68.128 suara dalam Pemilu 2014.  Perolehan yang cukup signifikan untuk lolos menjadi anggota DPR di Senayan.  

Suara diraih Irma dari daerah pemilihan Sumatera Selatan II yang meliputi Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Lahat, OKU Timur, OKU Selatan, Ogan Ilir, Empat Lawang, Kota Pagar Alam, dan Kota Prabumulih.

Irma saat ini menjabat Ketua Bidang Industri, perdagangan dan Tenaga kerja DPP Partai NasDem sekaligus memimpin dua organisasi sayap partai dengan jabatan sebagai Ketua Umum DPP Garda Wanita Malahayati atau Garnita Malahayati dan Ketua Umum DPP Gerakan Massa Buruh (Gemuruh) NasDem.


#irma suryani chaniago
#nasdem
#sosok
#kanker serviks
#komisi ix dpr
500
komentar (0)