logo rilis

​​Inpari 9 Cocok Dibudidayakan di Lahan Kering Buol
Kontributor

26 Mei 2018, 22:43 WIB
​​Inpari 9 Cocok Dibudidayakan di Lahan Kering Buol
Anak-anak bermain di lahan kering di Buol. Lahan kering tersebut ditanami padi varietas Inpari 9. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Buol— Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Prof. Dr. Dedi Nursyamsi M.Agr, mengatakan, luas tambah tanam Buol cukup besar potensinya, meski luas baku lahan sawah cuma 4.606 hektare. Sebab, lahan keringnya mencapai 240 ribu hektare.

"Dengan demikian, maka pengembangan padi gogo di lahan kering sangat tepat diimplementasikan di Buol," ujarnya saat Rapat Koordinasi Upaya Khusus Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale) di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Buol, Jumat (25/5/2018).

Pernyataan Penanggung Jawab (Pj) Upsus Pajale Buol ini, dikuatkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Buol layak ditanami padi gogo, lantaran curah hujan selama 25 tahun terakhir lebih dari 150 militer per bulan.

"Kondisi tersebut sangat ideal untuk petani, karena setiap saat bisa menanam padi, jagung, dan kedelai di lahan sawah maupun lahan kering," terang Dedi.

Sementara itu, Kepala Distanak Buol, Ir. Usman H. Hasan M.Si, menyatakan, daerahnya siap meningkatkan produksi pajale, khususnya di lahan kering. 
Apalagi, Buol mendapat bantuan Program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Kementerian Pertanian (Kementan) 3.375 hektare pada 2018.

Karenanya, jajaran Distanak Buol, khususnya penyuluh, mantri tani, dan Bintara Pembina Desa (Babinsa), mendorong petani merealisasikan tanam padi gogo di PATB tersebut. Petani diharapkan menanam padi gogo pada waktu di luar kebiasaan.

"Sehingga, di masa yang akan datang, Buol dapat membuat sentra produksi padi juga di lahan kering," jelasnya. Petani di Buol biasanya menanam padi pada bulan Oktober-Desember.

Sedangkan Kepala Bidang Tanaman Pangan Distanak Buol, Amna SP, menerangkan, petani mulai bercocok tanam di luar Oktober-Desember. Namun, petani masih menggunakan padi gogo varietas lokal yang umurnya 5-6 bulan dan produktivitasnya sekitar 3-4 ton per hektare.

Terpisah, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Tanaman Pangan, Dr. Ismail Wahab, mengungkapkan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sudah merilis Inbrid Padi Gogo (Inpago) 9 untuk dikembangkan di lahan kering. Varietas ini tahan terhadap kekeringan dan memiliki potensi hasil tinggi. "Berkisar 8-9 ton per hektare," ucapnya.

Sedangkan Perwira Penghubung Kodim 1305/Buol-Tolitoli, Mayor (Inf) Umar Ali, mengajak penyuluh, mantri tani, dan Babinsa menjaga komunikasi dan sinergisitas di lapangan. Diharapakan, kendala-kendala di lapangan dapat diatasi bersama-sama secara tepat dan cepat.

"Kita semua berkomitmen untuk mendukung program Upsus Pajale. Sehingga, target yang sudah dicanangkan dapat tercapai dengan baik," tuntasnya.

Sumber: Estiyanto/Balitbangtan Kementan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)