logo rilis
Inpago, Inovasi Balitbangtan untuk Lahan Kering
Kontributor
Fatah H Sidik
14 Juni 2018, 15:49 WIB
Inpago, Inovasi Balitbangtan untuk Lahan Kering
Tanaman padi menggunakan benih Inpago 9, 12 Mei 2018. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menghasilkan benih inbrida padi gogo (Inpago), untuk meningkatkan produksi di lahan kering. Selain hasil, Inpago juga memiliki manfaat lain, seperti umur genjah lebih pendek dan tahan terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT). 

Inpago 12, misalnya, potensi hasil 10,2 ton per hektare, umur 111 hari, toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta tahan penyakit blas ras 033. Varietas ini lebih unggul, dibandingkan varietas lokal yang potensi hasilnya 1-2 ton per hektare dan umurnya sekitar enam bulan.

Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Ismail Wahab, mengatakan, Balitbangtan juga sudah merilis Inpago 9 dan Inpago Rindang 2 Agritan. Keunggulannya tak jauh berbeda dengan Inpago 12.

Potensi hasil Inpago 9 mencapai 8,4 ton per hektare, umur 109 hari, toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta tahan wereng batang cokelat biotipe 1. "Dan penyakit blas ras 133," ujarnya.

Sementara Inpago Rindang 2 Agritan, padi gogo khusus intercropping dengan tanaman perkebunan, seperti kelapa, karet, dan lainnya. Produktivitasnya sekitar 7,39 ton per hektare, serta tahan cekaman abiotik, kekeringan, dan keracunan Al.

"Juga toleran terhadap naungan. Sehingga, sesuai untuk intercropping dengan tanaman perkebunan," tambah Ismail.

Peneliti Balai Besar Litbang Padi, Aris Hairmansis, menambahkan, Balitbang menghasilkan berbagai jenis Inpago dengan kelebihan masing-masing. Semuanya, cenderung toleran terhadap kekeringan dan kemasaman (keracunan Al), tapi mempunyai ciri khas masing-masing.

Misalnya, Inpago 8 dan Inpago 10 potensi hasilnya tinggi dan rasanya pulen. Sehingga, disukai suku Sunda, Jawa, Sulawesi, dan lain-lain.

"Inpago 9 dan Inpago 11, potensi hasilnya tinggi dan rasanya pera. Sehingga, sangat disukai masyarakat Minang (Sumbar dan Riau) dan suku Banjar (Kalsel dan Kaltim)," lanjut Aris.

Ada juga yang nasinya wangi (aromatik) dan rasanya pulen, yaitu Situpatenggang. Sementara Inpago 7, menghasilkan beras merah. "Beras ini, mempunyai indeks glikemik (IGK) rendah, sehingga cocok untuk penderita diabetes," terang dia.

Sedangkan Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian, Dedi Nursyamsi, menerangkan, potensi lahan kering untuk pengembangan padi gogo cukup besar. Dari luasan 80 juta hektare lahan kering, yang sesuai sekitar 24,7 juta hektare. Perinciannya, lahan kering masam 21 juta hektare dan lahan kering iklim kering 3,7 juta hektare.

Apabila ekstensifikasi Inpago ke lahan kering sekitar satu juta hektare, produktivitas 4 ton per hektare, dan indeks pertanaman 150, tiap tahun ada tambahan produksi padi yang signifikan. "Sekitar enam juta ton GKG (gabah kering giling)," tutup Dedi.

Sumber: Dedi Nursyamsi/Balitbangtan


500
komentar (0)