logo rilis
​Inovasi Budi Daya Bawang Merah Balitbangtan Ini Lebih Menguntungkan
Kontributor
Fatah H Sidik
22 April 2018, 18:26 WIB
​Inovasi Budi Daya Bawang Merah Balitbangtan Ini Lebih Menguntungkan
Pengembangan bawang merah menggunakan inovasi biji botani (true shallot seed/TSS) yang diperkenalkan peneliti hortikultura BPTP Kalteng, Dr. Anang Firmansyah. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Palangkaraya— Kalimantan Tengah mengembangkan bawang merah sejak 2012. Hingga kini, ada sembilan sentra produksi bawang merah di Kalteng. Kota Palangkaraya, misalnya.

Di sana, ada dua desa menjadi sentra penangkaran komoditas bumbu dapur tersebut. Desa Sie Gohong, Kecamatan Bukit Batu, dan Desa Bereng Bengkel, Kecamatan Sebangau. Petani setempat menggunakan umbi sebagai benih.

Namun, mulai 2018 menerapkan teknologi alternatif yang potensial dalam pengembangan perbenihan bawang merah. Yakni, menggunakan biji botani (true shallot seed/TSS) yang diperkenalkan peneliti hortikultura Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalteng, Dr. Anang Firmansyah.

Keunggulan teknologi TSS bawang merah, katanya, meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat dibandingkan dengan sistem umbi serta bebas penyakit dan virus.

Bahkan, lebih hemat cuma Rp1,2 juta karena penggunaan kebutuhan benih lebih sedikit hanya 2-3 ton per hektare. Jika memakai benih umbi, produksi cuma 1-1,2 ton/hektare dan ongkos produksi sekira Rp15 juta-Rp25 juta.

Dengan penerapan teknologi TSS, pengangkutan pun lebih mudah. Begitu pula dengan daya simpan lebih lama dibandingkan benih umbi.

Penerapan teknologi TSS bawang merah di Kalteng sendiri telah diterapkan pada demplot di Kelurahan Baturung Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu. BPTP Kalteng menjadi kooperator lapangan dan uji coba dilakukan petani penangkar binaan, Suroto.

Anang menerangkan, perbenihan bawang merah memerlukan tahapan pembibitan selama 40 hari. Kemudian, dipindah ke lahan sekitar 60 hari, baru dilakukan dipanen.

"Saat ini Badan Litbang Pertanian telah mencanangkan Proliga (produksi lipat ganda) TSS yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa-Lembang)," jelasnya. Dengan teknologi tersebut, mampu panen hingga 40 ton per hektare.

"Semoga teknologi TSS bawang merah yang baru dikenalkan di Kalimantan Tengah tahun ini, di mana sebagian besar lahan-lahan untuk pengembangan perbenihan bawang merah adalah lahan gambut, dapat menembus produksi Proliga. Setidak-tidaknya mendekati produksi dari Proliga, sudah lumayan bagus," tutup Anang.

Sumber: Dedi Irwandi/Balitbangtan Kementan


500
komentar (0)