logo rilis
Inikah Kisahmu Kasih?
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
30 Mei 2017, 14:23 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Inikah Kisahmu Kasih?

Mari Bermimpi. Kita punya kepala negara. Pemimpin yang berani mati, cerdas, kuat, visioner dan zuhud. Di mana salah satu visinya adalah menguasai nuklir dan memastikan kemandirian energi. Sebab, praksisnya kita mampu punya delapan pusat reaktor nuklir. Dua di dua pulau paling utara, dua di dua pulau paling selatan, dua di dua pulau paling barat dan dua di dua pulau paling timur.

Kenapa harus di pulau-pulau terluar? 1)Demi keamanan dalam negeri; 2)Pusat pertahanan; 3)Alat stabilitas kawasan; 4)Kemudahan dan kemurahan ekspor energi; 5)Pemanfaatan wilayah tak berpenghuni. Bayangkan jika ini terjadi: semua negara akan gentar dan terkencing-kencing memasuki wilayah Indonesia.

Baca Juga

Syarat untuk menguasai, memproduksi dan mentradisikan nuklir ini ternyata satu: KEPALA NEGARA CERDAS, BERANI MATI DAN BERVISI KONSTITUSI.

Kenapa? Karena syarat yang lain telah terpenuhi. Indonesia sudah lama menguasai teknologi eksplorasi, penambangan dan pengolahan sumber bahan baku nuklir (uranium dan thorium) skala pilot dengan kapasitas 2 ton per hari.

Kita punya cadangan 70 ribu ton Uranium dan 125 ribu ton Thorium yang tersebar di sejumlah lokasi di Indonesia. Untuk partikel uranium potensinya dari berbagai kategori: terukur, tereka, teridentifikasi dan kategori hipotesis. Sedangkan Thorium baru kategori hipotesis.

Keduanya tersebar di berbagai daerah: di Kalan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat; di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; di Mamuju, Sulawesi Barat; di Sibolga Sumatra Utara, dan tentu saja di Biak, Papua.

Kita tahu bahwa tingkatan potensi sumber daya Uranium dan Thorium di seluruh Indonesia adalah terbesar kedua di dunia. Di daerah Bangka Belitung saja diperkirakan mencapai 170 ribu ton. Dengan perhitungan 1 ton thorium mampu memproduksi 1.000 megawatt (MW) per tahun, maka jumlah bahan baku tersebut bisa mengoperasikan 170 unit pembangkit listrik selama 1.000 tahun. Ingat: SERIBU TAHUN LISTRIK TANPA MATI.

Dari sisi total biaya produksi, PLTN Thorium juga lebih murah karena biayanya hanya USD3 sen per kWh. Sedangkan menggunakan batu bara harganya USD5,6 sen per kWh, gas USD4,8 sen per kWh, tenaga bayu USD18,4 sen per kWh, dan tenaga surya USD23,5 sen per kWh. Ingat: MURAH DAN BERKWALITAS.

Sudah lama dua kekayaan ini dirampok negara lain. Via freeport dan beberapa perusahaan asing lainnya, dua bibit nuklir ini diekspor ke negara-negara lain di G-7. Keuntungannya hanya dinikmati segelintir elite. Rakyat tidak menikmati sama sekali. Akankah ini akan berlangsung selama hidup kita? Gelap 1000 tahun. Jawabannya ada di kita semua. Yaitu memilih kepala negara yang bervisi konstitusi. Tak cukup manusia yang bisanya pidato, berbohong dan blusukan.

Ingat! Kegagalan menemukan dan menetapkan kepala negara yang gagah akan melahirkan tiga anak haram demokrasi liberal: 1)Rekonsolidasi oligarki kapitalisme di semua lini; 2)Redesain kepemimpinan lemah syahwat yang lugu dan dispower; 3)Kehancuran jalan ekonomi-politik konstitusi dan menguatkan warisan ekonomi-politik neoliberal yang bengis dan brutal.

MENGERIKAN BUAT WARGA WARAS!

Sebab semua bukan telah terbeli, tapi semua telah terjual. Sesuai skenario para penjajah yang dibantu para begundal lokal.


#Yudhie Haryono
#Nusantara
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID