logo rilis
Ini Solusi Menteri Darmin Atasi Nilai Tukar Rupiah yang Melemah
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
28 April 2018, 21:35 WIB
 Ini Solusi Menteri Darmin Atasi Nilai Tukar Rupiah yang Melemah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasuiton. FOTO: Humas Kemenko Perekonomian

RILIS.ID, Singapura— Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan pihaknya tak menutup peluang untuk menaikkan suku bunga acuan. Hal itu menurutnya, bisa dianggap sebagai jawaban atas persoalan kurs atau nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS.

"Jadi kalau Bank Indonesia bilang kita tidak akan menghindar, tidak menutup peluang untuk menaikkan suku bunga kalau perlu, ya memang jawabannya kira-kira itu," kata Darmin Nasution di sela acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-32 ASEAN di Singapura, Sabtu (28/4/2018).

Darmin menjelaskan, situasi perkembangan global khususnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diprediksi semakin membaik memberikan dampak yang luas, termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Karena menurutnya, terkoreksinya nilai kurs rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir berawal dari prediksi pertumbuhan ekonomi AS yang semakin membaik tersebut.

"Kalau dia membaik maka bisa diperkirakan bahwa tingkat bunganya akan naik empat kali, padahal yang baru diprice-in oleh market baru tiga. Jadi hampir pasti dia akan naik empat kali tahun ini ke depan," ujarnya.

Dia sendiri menekankan perlunya ada adjustment dari pihak Indonesia untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut. "Ya memang perlu, kalau dibiarkan kurs seperti ini, itukan bukan pilihannya membiarkan kurs atau bunga yang bergerak itu namanya adjustment, keseimbangan baru namanya," katanya.

BI sendiri sudah menyatakan tidak menutup ruang untuk menaikkan suku bunga acuan BI rate. Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan yang berkisar 0,25 bps saja tidak akan berpengaruh terhadap target-target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah ditetapkan sebelumnya.

"Enggak akan banyak, di Amerika naiknya, 0,25 bps saja itu. Justru dampaknya akan kurang baik kalau dibiarkan kurs yang bergerak," paparnya.

Sumber: Antara


500
komentar (0)