logo rilis
Ini Solusi Mendes Supaya Ekonomi Indonesia Makin Kuat
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
25 April 2018, 16:02 WIB
Ini Solusi Mendes Supaya Ekonomi Indonesia Makin Kuat
Menteri Desa PDTT, Eko Putro Sandjojo. FOTO: Istimewa.

RILIS.ID, Pekanbaru— Indonesia punya potensi menduduki peringkat keempat negara dengan perekonomian terkuat di dunia. Hal tersebut dapat terwujud jika masyarakat mampu mempertahankan stabilitas politik-sosialnya.

"Kita kalau kita bisa mempertahankan stabilitas sosial kkita bisa jika mempertahankan stabilitas politik, dan kita bisa jika mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi," kata Mendes PDTT, Eko Putro Sandjojo.

Ia ungkapkan itu dalam peresmian Rembug Desa Regional Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Tahun Anggaran 2018, di Hotel Mutiara Pekanbaru, Riau, Rabu (25/4/2018).

Ia juga melansir data penyedia jasa auditor Price Waterhouse Coopers (PwC) yang merilis potensi Indonesia merangkak naik dalam peringkat ekonomi dunia.

Sebelumnya, PwC merilis hasil riset tentang outlook perekonomian dunia. Chief Economist PwC, John Hawksworth, mengatakan, Indonesia akan berada di peringkat 5 pada 2030 dengan estimasi nilai GDP US$ 5.424 miliar.

"Indonesia juga berpotensi naik menjadi peringkat 4 pada 2050 dengan estimasi nilai GDP US$ 10.502 miliar berdasarkan nilai GDP dengan metode perhitungan Purchasing Power Parity (PPP)," ujarnya.

Lebih lanjut, Eko mengatakan, posisi tersebut akan menjadikan Indonesia dengan perekonomian big emerging market, dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara. 

Karena itu, Ia pun meyakini pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, dengan tingkat inflasi 3,5 persen pada tahun ini oleh pemerintah akan terwujud.

"Belanja negara juga dianggarkan sebesar Rp2.204,4 triliun, dengan defisit mencapai Rp325,9 triliun, total subsidi yang dianggarkan juga semakin meningkat menjadi Rp172,4 triliun," ujarnya.

Namun begitu, Eko tak menampik masih ada sejumlah kendala untuk menaikkan potensi ekonomi Nasional, yakni potensi perekonomian di tingkat yang masih belum focus dan terpetakan.

"Sekarang desa harus memetakan fokusnya apa. Dan, nanti akan dicarikan pihak swasta untuk pengembangannya. Solusinya seperti itu," ujarnya.

"Karena dari sekian banyak dana desa yang disalurkan pemerintah selama ini, hanya mampu terserap 30 persen terserap pada sektor lapangan kerja," tambah dia.

Persoalan perputaran perekonomian desa juga masih berkutat dengan tengkulak, di mana mereka lebih memanfaatkan peluang potensi ekonomi di desa. 

"Kalau masalah ini tidak segera dipetakan dan diselesaikan, yakinlah tengkulak akan meraja lela dan hasil panen petani akan diambil dengan harga murah," sesal Eko.

Masalah lain yang dialami masyarakat dampak dari kondisi tersebut, yakni risiko kerugian yang besar sehingga perbankan dan swasta memilih untuk tidak menyalurkan bantuan kreditnya.


500
komentar (0)