logo rilis
Ini Skenario Sebenarnya Drama Kecelakaan Novanto
Kontributor
Tari Oktaviani
19 April 2018, 13:51 WIB
Ini Skenario Sebenarnya Drama Kecelakaan Novanto
Terdakwa Korupsi e-KTP Setya Novanto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutardjo, menyebut pihak Setya Novanto pernah memintanya untuk membuat skenario kecelakaan saat masuk ke RS setempat. Mulanya, Bimanesh memang menyetujui permintaan kuasa hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi yang meminta kliennya dirawat karena mengeluh pusing dan hipertensi.

Lalu ditambah dengan resume penyakit Novanto saat dirawat di RS Premier Jatinegara juga menguatkan keyakinannya bahwa Novanto butuh perawatan intensif. Dalam resume itu, Bimanesh menceritakan ia melihat radang lambung, radang usus, jantung.

"Kurang lebih ada 5 diagnosis. Itu dari RS premier Jatinegara," ungkapnya saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Setelah memastikan Novanto mendapat kamar di RS Medika Permata Hijau, lalu saat ia tertidur ada telepon masuk dari Setya Novanto. Ia mengatakan singkat sekali Novanto melalui kuasa hukumnya Fredrich Yunadi, hanya meminta Bimanesh merubah skenario menjadi kecelakaan.

"'Dok skenarionya kecelakaan'. Saya bingung itu maksudnya apa. Tapi setelah itu ditutup. Singkat sekali. Hanya itu aja. Kemudian saya tutup aja teleponnya," katanya.

Lalu, Bimanesh merasa janggal sebab paginya minta dirawat karena gangguan hipertensi namun sore hari diminta dirawat karena kecelakaan. Kendati begitu Bimanesh mengaku mengikuti alur saja namun ia merasa semakin aneh karena dokter jaga IGD tidak mau merawatnya.

"Perawat bilang setengah jam lalu ada pengacara ketemu Michael minta keterangan kecelakaan lalu lintas. Tapi ditolak. Saya kan jadi bingung kenapa saya dipanggil untuk suatu hal yang nggak ada," paparnya.

Lalu selang lima menit kemudian, ia semakin kaget karena Novanto masuk ke RS dengan diantar brankar dengan wajah ditutupi selimut penuh. "Kalau daei IGD kan nggak perlu terburu-buru dan nggak pakai selimut kayak hijab tebal gitu. Saya tanya tapi nggak ada yang jawab," paparnya.

Lalu, kala itu, Bimanesh mengaku hanya melihat luka ringan di wajah Setya Novanto. Namun karena tensi Novanto termasuk tinggi, maka Bimanesh pun memutuskan untuk tetap Novanto dirawat inap.

"Saya lihat di luar ada beberapa luka lecet di sebelah kiri, di leher segaris dan di lengan. Cuman tiga itu yang saya jumpai. Jadi ringan bukan pukulan yg hebat. Ada kulit ari yg terkelupas dan ada bagian yg membengkak sedikit cuman 1,5 cm," ungkapnya.

Dalam kasus ini, Fredrich didakwa oleh Jaksa KPK menghalangi atau merintangi proses penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP, yang menyeret Setya Novanto (Setnov).

Fredrich disebut bekerjasama dengan Dokter Rumah Sakit‎ Medika Permata Hijau Jakarta, Bimanesh Sutarjo. Keduanya diduga melakukan kesepakatan jahat untuk memanipulasi hasil rekam medis Setnov yang saat itu sedang diburu oleh KPK dan Polri.

Atas perbuatannya, Fredrich didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)