logo rilis
Ini Sebabnya Tradisi Minum Susu Masyarakat Indonesia Rendah
Kontributor
Eroby JF
03 Mei 2018, 16:04 WIB
Ini Sebabnya Tradisi Minum Susu Masyarakat Indonesia Rendah
Pada awal abad ke-20 didatangkan sapi penghasil susu Fries-Holland ke Jawa. FOTO: wikiwand.com

RILIS.ID, Jakarta— Sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Fadly Rahman, mengatakan, tradisi minum susu yang rendah masyarakat Indonesia bisa jadi karena masyarakat Nusantara pada zaman dulu memang tidak memiliki kebiasaan meminum susu.

"Nusantara identik dengan kawasan agraris dan pesisir. Hewan ternak seperti kerbau dan sapi lebih dimanfaatkan tenaganya untuk membajak sawah dibandingkan dimanfaatkan untuk dikonsumsi, termasuk susunya," kata Fadly dalam sebuah lokakarya di Jakarta, Kamis (3/5/2018).

Hal itu, katanya, bahkan didokumentasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles, dalam bukunya, The History of Java yang diterbitkan pada 1817. Raffles menyayangkan potensi susu sapi di Jawa yang disia-siakan masyarakat.

Merujuk riset Expos statistique du Tonquin, Raffles menemukan fakta mengapa konsumsi susu di kalangan orang Siam dan Cina rendah. Ternyata, mereka tidak berkenan meminum susu hewan.

"Mereka merasa jijik, karena bagi mereka sama dengan meminum darah. Bagi mereka susu itu seperti darah yang berwarna putih," jelas Fadly.

Menurut Fadly, hingga Abad ke-15 tradisi gembala di Nusantara belum mantap, sehingga sumber makanan hewani berbasis ternak lebih minim dibandingkan sumber makanan nabati. Apalagi, sapi disakralkan dalam tradisi Hindu.

"Tradisi minum susu memang dimulai oleh masyarakat dengan kebudayaan gembala. Sejak 9.000 SM hingga 8.000 SM, susu sudah dikonsumsi di Timur Tengah. Masyarakat Eropa baru mulai meminum susu 3.300 SM hingga 1.000 SM yang meyakini berkhasiat untuk menguatkan tubuh," tuturnya.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)