logo rilis
Ini Saksi Kunci Kasus Dugaan Suap Bakamla
Kontributor
Tari Oktaviani
12 April 2018, 12:40 WIB
Ini Saksi Kunci Kasus Dugaan Suap Bakamla
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Saksi kunci kasus dugaan suap pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla), Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi, akhirnya dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Fahmi Habsyi sedianya akan diperiksa sebagai saksi untuk anggota DPR yang sudah ditersangkakan oleh KPK, Fayakhun Andriadi.

"Penyidik memanggil Ali Fahmi sebagai saksi hari ini," jelas Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di Jakarta, Kamis (11/4/2018).

Dalam kasus ini, Ali Fahmi memegang peranan cukup penting. 

Pasalnya, dalam beberapa kali persidangan, namanya disebut sebagai perantaran pemberian uang dari Bakamla RI kepada sejumlah anggota DPR. 
Kendati begitu, penyidik kerap tak berhasil memanggilnya lantaran ia tidak diketahui keberadaannya.

Selain Ali Fahmi, anggota komisi XI DPR, Donny Imam Priambodo juga dipanggil lagi oleh penyidik KPK.

Pemanggilan Donny Imam kali ini merupakan jadwal ulang dari pemanggilan sebelumnya yang bersangkutan tak hadir. 

"Donny Imam Priambodo dipanggil sebagai jadwal ulang saksi untuk penyidikan tersangka FA (Fayakhun Andriadi,red)," katanya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan Fayakhun sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan satelit monitoring di Bakamla, tahun anggaran 2016.

Fayakhun diduga menerima ‎hadiah atau janji berupa uang setelah memuluskan anggaran proyek Bakamla. 

Dia mendapatkan imbalan 1 persen dari proyek senilai Rp1,2 triliun atau sebesar Rp12 miliar.

Selain itu, Fayakhun juga diduga menerima dana suap sebesar US$300 ribu. Uang tersebut diduga diterima Fayakhun dari proyek pengadaan di Bakamla.

Sejumlah uang yang diterima Fayakhun tersebut berasal dari Direktur Utama Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Dharmawansyah yang diberikan melalui anak buahnya, M. Adami Okta. 

Uang tersebut diberikan dalam empat kali tahapan.

‎Dalam kasus ini muncul pula sejumlah nama anggota DPR yang disebut ikut menerima suap terkait proyek pengadaan alat satmon pada Bakamla. 

Mereka yakni, Politikus PDI Perjuangan, TB. Hasanuddin dan Eva Sundari; Politikus Golkar, Fayakhun Andriadi; serta dua Politikus NasDem, Bertus Merlas dan Donny Priambodo.

Tak hanya itu saja nama Setya Novanto dan Kahar Muzakir yang kala itu duduk si Badan Anggaran DPR juga turut disebut dalam persidangan. 

Hal ini lantaran adanya percakapan antara Fayakhun dengan Erwin Arief yang merupakan perantara.

Hal tersebut terungkap ketika Direktur PT Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Darmawansyah bersaksi untuk terdakwa mantan pejabat Bakamla, Nofel Hasan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam kesaksiannya, Fahmi mengakui pernah memberikan uang sebesar Rp24 miliar atau enam persen dari nilai total proyek alat satmon Bakamla sebesar Rp400 miliar kepada Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi selaku narasumber Bakamla.

Lalu uang tersebut diduga telah disalurkan Ali Fahmi kepada sejumlah anggota DPR untuk meloloskan anggaran proyek Bakamla ini.‎ 

Namun, KPK belum dapat mendalami lebih lanjut keterangan dari Ali Fahmi mengingat hingga hari ini belum diketahui keberadaan.
 

Editor: Kurniati


500
komentar (0)