logo rilis

Ini Penyebab Judi Pilkada Jatim Terjadi
Kontributor
Budi Prasetyo
28 Maret 2018, 10:14 WIB
Ini Penyebab Judi Pilkada Jatim Terjadi
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Surabaya— Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, memprediksi botoh (pelaku judi) akan ikut bermain dalam Pemilihan Kepala Daerah di Jawa Timur 2018. 

Mereka tak hanya sekadar terlibat praktik perjudian, tapi juga turut membiayai salah satu pasangan calon.

"Dalam situasi persaingan sengit, bandar dan botoh potensial bermain," kata Surokim saat dikonfrimasi rilis.id di Surabaya, Rabu (27/3/2018).

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan botoh selalu mewarnai gelaran Pilkada. Di antaranya adalah toleransi masyarakat terhadap politik uang sangat tinggi dan mudah digerakkan, serta dimobilisasi. 

"Ada faktor kultural dan mutakhir yang bisa memicu. Faktor kultural adalah budaya patron yg kuat yang melahirkan fenomena politik anut grubyuk ngikut tabik pada patronnya," tambahnya.

"Kedua, mereka tidak berkepentingan terhadap hasil pilkada. Jadi siapa saja yang jadi mereka enggak punya fanatisme. Akibatnya situasi itu dimanfaatkan botoh untuk vote buying," tambahnya. 

Surokim menjelaskan, para botoh sangat paham wilayah mereka. Sebagian dari mereka bahkan memanfaatkan tokoh berpengaruh yang ada di wilayah itu. 

"Bandar pilkada sulit untuk dieleminasi. Mereka paham betul situasi lokal dan taktis bisa memanfaatkan struktur termasuk teknis kepemiluan," katanya.

Surokim menyarankan, agar pemerintah melakukan pengawasan ekstra, agar keberadaan para botoh bisa diminimalisir.

"Jika serius mengantisipasi maka tidak bisa dengan cara biasa harus extraordinary task force khusus yang bisa bikin efek jera. Diperlukan sosialisasi yang intens dan kesadaran para kandidat untuk tidak tergoda memanfaatkan jasa mereka itu akan jadi solusi di samping juga pengawasan yang intens," pungkasnya. 

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)