logo rilis

Ini Penjelasan Lengkap Airlangga soal Revolusi Industri 4.0 
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
16 April 2018, 16:07 WIB
Ini Penjelasan Lengkap Airlangga soal Revolusi Industri 4.0 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan penjelasan lengkap saat mengisi diskusi soal revolusi industri 4.0. Menurutnya, keberadaan Mapping Indonesia 4.0 itu tak bisa dilepaskan dari rangkaian panjang sejak kemunculan revolusi industri yang pertama. 

"Revolusi Industri ini merupakan proses dari revolusi sebelumnya. Bagi Indonesia, ini berjalan secara beriringan karena masih ada revolusi sebelumnya yang masih juga berjalan sampai saat ini," kata Airlangga di kawasan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Revolusi industri ketiga, ujar Airlangga, dimulai pada kurun 1970-an. Saat itu, otomatisasi dan robotisasi jumlah tenaga kerja yang diserap sudah jauh lebih kecil dari pada saat revolusi industri kedua. 

Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan, yang terjadi pada revolusi industri 4.0 adalah terkoneksinya manusia dan mesin dengan internet. Menurutnya, efisiensi mesin dengan manusia dan mesin dengan mesin sudah terkonektivitas dengan internet di semua aspek. 

"Kalau dulu ada proses manufaktur sekarang antara konsumen dengan produksi itu berinteraksi secara langsung," jelasnya. 

Dia menilai, nantinya perkembangan teknologi yang lebih cepat menjadi suatu keniscayaan dalam Mapping Indonesia 4.0 tersebut. Salah satunya, kecepatan konektivitas internet dengan menggunakan 5G.

"Beda industri 3.0 dengan 4.0 adalah value chain-nya. Industri 3.0 di-drive oleh profit dan 4.0 itu oleh harga dan cost dan banyak produk-produk yang cost itu tentunya ujung value added dan supply chain," ungkapnya. 

Dalam revolusi industri 4.0, lanjut Airlangga, kekuatan data menjadi salah satu hal penting untuk memenangkan pertarungan ekonomi di dunia. Karena menurutnya, proses otomatisasi dan kontrolnya semuanya digerakkan oleh big data dan artificial intelegence

Dia menambahkan, Indonesia juga memiliki potensi yang besar untuk bisa bersaing di era industri 4.0 itu. Salah satu modalnya, lanjut dia, adalah kekuatan sumber daya manusia. 

"Untuk memasuki industri 4.0 kita punya modal industri market dan SDM di universitas. Potensi ini cukup untuk membawa Indonesia ke era digital. Sampai 2030 kita masih mengalami bonus demografi," pungkasnya. 

Editor: Elvi R


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)