logo rilis

Ini Cerita Menteri Amran kepada Mahasiswa Unej
Kontributor

23 Mei 2018, 16:35 WIB
Ini Cerita Menteri Amran kepada Mahasiswa Unej
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jember— Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menceritakan pengalamannya selama berada di Kabinet Kerja sejak 2014. Salah satunya, mengenai terobosan yang dilakukan dan capaiannya.

Saat menjadi menteri, katanya, merombak regulasi terkait pengadaan. Soalnya, mekanisme tender membuat bantuan sarana produksi kepada petani menjadi mubazir.

"Anggaran keluar Januari, empat bulan tender. Selesai panen, baru traktor jalan (diterima petani)," ujarnya saat Kuliah Umum "Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045" di Kampus Unej, Jember, Jawa Timur, Rabu (23/5/2018).

Hal tersebut, mendorongnya menemui Presiden dan meminta regulasi pengadaan barang/jasa diubah. Sebab, ucapnya kepada Presiden, "Tikus tidak pernah katakan, tunggu dulu, pemerintah lagi tender."

Menteri Amran pun mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tujuannya, penyimpangan dapat dihindari dan anggaran tak diselewengkan. Alhasil, Kementan berhasil menyabet penghargaan antigratifikasi.

Terobosan selanjutnya, meningkatkan alokasi anggaran untuk petani langsung. Konsekuensinya, anggaran seminar, peresmian, pengadaan, dan uang perjalanan dinas alokasinya dicabut. "Dulu, alokasi alsintan untuk petani 35 persen. Sekarang 85 persen," jelasnya.

Menteri Amran juga mendorong peneliti pertanian, lebih giat melakukan riset dan berinovasi. Alasannya, memajukan pertanian nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani.

"Kemudian deregulasi. Dulu izin pertanian tiga bulan, bahkan ada dua tahun, tiga tahun. Kami buat Satu Padu. Dalam satu jam selesai, bahkan cukup dari rumah," imbuh dia.

Selanjutnya, memaksimalkan lahan menganggur, seperti tadah hujan. Tujuannya, meningkatkan produksi dalam negeri serta merealisasikan visi Lumbung Pangan Dunia 2045.

Jebolan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini turut mengembangkan pertanian di daerah perbatasan sebagai lumbung pangan. Lingga, Belu, Malaka, Merauke dan Entikong, misalnya.

Dengan begitu, mempermudah ekspor pangan, khususnya ke negeri jiran. Harga pangan juga mulai stabil. "Sebelum Jokowi-JK, harga beras Rp50 ribu-Rp80 ribu di Merauke. Hari ini Rp8 ribu," bebernya.

Menteri Amran mengungkapkan, banyak capaian terukir buah dari terobosan tersebut. Misalnya, berhasil menutup keran impor beras dan jagung. Bahkan, sudah diekspor ke berbagai negara, termasuk bawang merah. "Dalam sejarah pertanian 72 tahun, kita tembus ekspor ayam ke Jepang," lanjutnya.

Sementara itu, Rektor Unej, Moh Hasan, berharap, Kementan konsisten melakukan modernisasi pertanian, memaksimalkan lahan suboptimal, dan upaya lainnya. "Mudah-mudahan ikhtiar dapat rida dan petunjuk-Nya," katanya.

Dia menyatakan demikian, mengingat pangan bakal menjadi persoalan besar saat pemerintah tak bisa memenuhi kebutuhan penduduknya. "Masalah pangan tidak lepas dari masalah kependudukan," tuntas Hasan.

Editor: Kurnia Syahdan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)