logo rilis
Ini Catatan Pelaksanaan Pemilu 2019 yang Bikin Sandiaga Uno Prihatin
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
14 Mei 2019, 22:32 WIB
Ini Catatan Pelaksanaan Pemilu 2019 yang Bikin Sandiaga Uno Prihatin
FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno, mengungkapkan penilaiannya terhadal pelaksanaan Pemilu 2019. Menurutnya, Pemilu 2019 yang sedang dijalani ini menorehkan sejumlah catatan yang cukup memprihatinkan.

Yang pertama, kata Sandi, dalam pelaksanaan Pemilu 2019 ini banyak memakan korban dengan meninggalnya para petugas penyelenggara pemilu lebih dari 600 orang. 

"Lebih dari 600 petugas penyelenggara pemilu wafat, lebih dari 3.000 orang lain dirawat," katanya dalam acara yang diselenggarakan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Masyarat Peduli Pemilu Bersih dan Berintegrasi (MPPBB), di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (14/5/2019).

Dia kemudian mengajak para pendukung Prabowo-Sandi yang hadir pada acara itu untuk mendoakan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang wafat supaya husnul khotimah, memperoleh status mati syahid karena gugur saat menjalankan tugas kenegaraan.

Serta mendoakan semoga yang sakit segera disembuhkan dan korban jiwa tidak terus bertambah.

"Hadir juga di sini, salah seorang pewakilan korban, (yakni) Ibu Evi. Ayahanda beliau, Umar Hadi, wakil ketua KPPS Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, harus wafat. Kami tadi bersama Pak Prabowo ingin menyampaikan bela sungkawa yang mendalam," ujar Sandi. 

"Kami juga mencium politik uang yang sangat tajam. Salah satu orang penting tim kampanye nasional pasangan calon 01 tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi dengan barang bukti ratusan ribu amplop berisi uang," lanjut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut. 

Sandi menilai, pelaksanaan pemilu saat ini adalah puncak gunung es politik uang yang kelak menciderai demokrasi.

"Dari berbagai penjuru Tanah Air, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur masyarakat disuguhi banyak cerita, bagaimana gelombang tsunami amplop politik uang yang dikawal oleh aparat pemerintah bahkan aparat keamanan," ungkap dia. 

Menurut Sandi, apa yang terjadi itu bisa menghancurkan sendi-sendi demokrasi, di mana rakyat sebagai pemilik kedaulatan dibuat terlena. Bukannya memilih sesuai hati nurani, menurutnya, namun dipaksa atau setengah dipaksa memilih yang memberikan iming-iming uang.

"Kami harus akui mencari bukti praktik politik uang ini bukanlah hal yang mudah, tapi marilah kita jujur mengakui bahwa praktik-praktik kotor ini memang terjadi," paparnya. 

Sumber: Antara




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID